php hit counter
Home / Fiqh dan Muamalah / Sikap Ghuluw itu Terlarang dalam Islam, Kenapa Demikian?

Sikap Ghuluw itu Terlarang dalam Islam, Kenapa Demikian?

Sikap Ghuluw itu Terlarang dalam Islam, Kenapa Demikian?—Ahlu Sunnah wal Jamaah, atau oleh kalangan santri biasa disebut dengan ASWAJA, adalah manhaj dalam memahami agama Islam yang berusaha sedekat mungkin memahami Islam sesuai dengan apa yang dipahami oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam para sahabatnya, para tabi’in, dan para tabi’ut tabi’in.

Salah satu keunggulan Manhaj Ahlu Sunnah wal Jamaah adalah konsep I’tidal; bersikap adil dalam seluruh aspek. Sehingga, manhaj yang begitu mulia ini sangat anti terhadap berbagai macam bentuk sikap ghuluw dalam segala hal, terutama dalam berislam.

Ghuluw dalam konteks berislam maknanya adalah sikap keras, kaku, berlebih-lebihan, dan melebihi batas yang telah ditentukan oleh syar’i. (An-Nihayah fi Gharibil Atsar, 3/382)

Imam al-Qurthubi mencoba menjelaskan makna ghuluw yang terdapat dalam surat al-Maidah ayat 77, Laa Taghluu fii Diinikum, beliau mengatakan, “Janganlah berlebih-lebihan (Ifrath) sebagaimana sikap berlebih-lebihan kaum Yahudi dan Nasrani terhadap Nabi Isa. Bentuk ghuluw kaum Yahudi adalah menganggap Nabi Isa bukan anak yang lahir dari pernikahan syar’i (anak haram), sementara kaum Nasrani menganggap Isa adalah Tuhan.” (Tafsir al-Qurthubi, 6/252)

Sikap Ghuluw dalam berislam dapat terjadi dalam berbagai ranah praktik beragama; ranah ibadah, keyakinan atau akidah, perkataan, maupun perbuatan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan peringatan keras kepada umatnya tentang buruknya sikap ghuluw dalam berislam.

Selain memang sikap ghuluw ini dilarang secara langsung berdasarkan dalil yang ada, tampaknya setiap muslim juga perlu memahami lebih detail mengapa sikap ghuluw dalam berislam ini dilarang. Harapannya, setiap muslim memiliki pemahaman yang mendalam dan menghujam tentang persoalan ini sehingga menambah kualitas keislaman secara ilmiah dan proporsional dalam amaliah, bukan sekedar ikut-ikutan.

 

SIKAP GHULUW MENJADI FAKTOR PERUSAK ISTIQAMAH DALAM BERAMAL

Sikap ghuluw ternyata menjadi faktor penyebab tumbuhnya perasaan jenuh dan lemah sehingga terputuslah kontinuitas dalam beramal ibadah. Ghuluw merusak prinsip istiqamah dalam beramal yang telah tertanam dalam diri seorang muslim.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ، وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلاَّ غَلَبَهُ، فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَأَبْشِرُوا، وَاسْتَعِينُوا بِالْغَدْوَةِ وَالرَّوْحَةِ وَشَىْءٍ مِنَ الدُّلْجَةِ

Sesungguhnya agama itu mudah, dan sekali-kali tidaklah seseorang memperberat agama melainkan akan dikalahkan, dan (dalam beramal) hendaklah bersikap pertengahan (tidak melebihi dan tidak mengurangi), bergembiralah kalian, serta mohonlah pertolongan (di dalam ketaatan kepada Allah) dengan amal-amal kalian pada waktu kalian bersemangat dan giat.” (HR. Al-Bukhari No. 38)

Baca juga: 12 Buah Iman Pemberian Allah Kepada Hamba yang Jujur dalam Beriman

Maknanya, seorang muslim yang berjibaku dengan berbagai amal ibadah namun jika ia mengabaikan sikap keramahan (Ar-Rifqu), maka ia akan ditimpa perasaan letih lalu terputus amalannya, dan ia kalah dalam mempertahankan keistiqamahan. (Fathul Bari, Ibnu Hajar al-Asqalani, 1/94)

Dari hadits ini pula kita bisa paham bahwa orang yang terlalu berlebihan dalam berislam, maka ia akan mudah terhenti dari amalan tersebut. Bukan berarti Islam itu melarang umat untuk meraih idealisme amal ibadah, namun Islam mencegah sikap berlebih-lebihan yang akan mengantarkan pelakunya pada kejenuhan ibadah semisal tenggelam dalam kesibukan ibadah sunah hingga kehabisan energi untuk melaksanakan ibadah yang lebih utama atau wajib.

 

SIKAP GHULUW MENGELUARKAN PELAKUNYA DARI LINGKARAN SUNAH

Allah ‘azza wajalla memerintah hamba-Nya untuk senantiasa melaksanakan perintah-Nya dan perintah rasul-Nya. Sunah-sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menunjukkan cara untuk meyakini dan mengamalkan Islam secara benar. Oleh sebab itu, sikap ghuluw dalam berislam adalah bentuk lain dari sikap keluar dari ruang lingkup sunah. Orang yang ghuluw dalam berislam berarti ia sedang mengeluarkan dirinya dari lingkaran sunah.

Pernah ada tiga orang yang mendatangi rumah istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka bertanya perihal ibadah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setelah mereka diberitahu, mereka merasa ternyata amalan mereka masih sangat sedikit sekali.

Kemudian, salah satu dari mereka menyatakan diri ingin shalat sepanjang malam. Satunya lagi ingin melaksanakan shiyam sepanjang tahun. Orang yang ketiga ingin menjauh dari perempuan dan tidak akan menikahi perempuan selamanya.

Sikap tiga orang tersebut termasuk kategori sikap ghuluw. Buktinya, saat itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam langsung menegur sikap tersebut dengan sabdanya,

Demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut dan paling bertakwa kepada Allah di antara kalian, tetapi aku berpuasa dan berbuka, shalat dan tidur malam, dan aku juga menikah dengan perempuan. Barang siapa yang benci terhadap sunahku, maka ia tidak termasuk golonganku.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

 

SIKAP GHULUW MENJADI FAKTOR MUNCULNYA KEBINASAAN

Sikap ghuluw dalam berislam ternyata juga memicu munculnya kerusakan dan kebinasaan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengisyaratkan hal ini dalam sabdanya yang diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas, ia berkata,

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku pada padi hari ‘Aqabah (hari melempar jumrah pertama dalam rangkaian ibadah haji), dan saat itu beliau berada di atas kendaraannya, ‘Kemarilah, ambilkan (kerikil) untukku.’

Maka aku ambilkan untuk beliau kerikil-kerikil, dan kerikil-kerikil itu (yang aku ambil) adalah batu-batu yang digunakan untuk melempar Ketapel, maka ketika aku letakkan di tangan beliau, beliau berkata,

Dengan (kerikil) yang seperti mereka, dengan yang seperti mereka dan waspadalah kalian dari sikap ghuluw dalam beragama, karena sesungguhnya yang membinasakan umat-umat sebelum kalian adalah sikap ghuluw dalam beragama’.” (HR. An-Nasa’i No. 3057, hadits shahih)

 

SIKAP GHULUW ITU MEMPERSULIT DIRI

Namanya juga berlebih-lebihan, tentu saja setiap sikap yang berlebihan itu akan menghadirkan konsekuensi yang akan kembali kepada dirinya, yaitu berupa kesulitan. Allah ‘azza wajalla akan menghadirkan kesulitan-kesulitan pada orang yang lebih memilih bersikap ghuluw dalam berislam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تُشَدِّدُوْا عَلَى أَنْفُسِكُمْ فَيُشَدِّدُ اللهُ عَلَيْكُمْ فَإِنَّ قَوْمًا شَدَّدُوْا عَلَى أَنْفُسِهِمْ فَشَدَّدَ اللهُ عَلَيْهِمْ فَتِلْكَ بَقَايَاُهْم فِي الصَّوَامِعِ وَالدِّيَارِ وَرَهْبَانِيَّةً ابْتَدَعُوْهَا مَا كَتَبْنَاهَا عَلَيْهِمْ

Janganlah kamu memberat-beratkan dirimu sendiri, sehingga Allah akan memberatkan dirimu. Sesungguhnya suatu kaum telah memberatkan diri mereka, lalu Allah memberatkan mereka. Sisa-sisa mereka masih dapat kamu saksikan dalam biara-biara dan rumah-rumah peribadatan, mereka mengada-adakan rahbaniyyah (ketuhanan/kerahiban) padahal Kami tidak mewajibkannya atas mereka. (HR. Abu Daud No. 4904; HR. Abu Ya’la No. 3694 dalam Al-Musnad, 6/365, Al-Haitsami berkata, riwayat Abu Ya’la adalah mursal, namun perawinya tsiqah)

Baca juga: Jahiliyah Sebagai Sebuah Kondisi dan Sifat, Tidak Terbatas Pada Identitas Zaman dan Waktu

Ibnu Qayyim menjelaskan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang sikap ghuluw dalam berislam, yakni berislam melebihi batas yang telah ditentukan oleh syariat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menginformasikan bahwa sikap ghuluw adalah faktor penyebab datangnya kesulitan-kesulitan dari Allah ‘azza wajalla. Seperti orang yang menyulitkan diri dengan nazar yang cukup berat, akhirnya ia terbebani dengan beratnya memenuhi nazar tersebut. (Ighatsatul Lahfan, 1/132)

 

SIKAP GHULUW MEMBERI CELAH SETAN UNTUK BERKUASA

Setan memiliki pengalaman yang cukup panjang dalam proses menjerumuskan manusia ke dalam kesalahan dan dosa. Sikap ghuluw adalah salah satu dari sekian banyak pintu yang digunakan setan untuk menjerumuskan manusia. Manusia-manusia yang semangatnya melebihi pemahamannya terhadap agama dalam beramal menjadi sasaran yang cukup menggiurkan bagi setan.

Dari Mutharif ia berkata, ayahku berkata,

انْطَلَقْتُ فِي وَفْدِ بَنِي عَامِرٍ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْنَا أَنْتَ سَيِّدُنَا فَقَالَ السَّيِّدُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى قُلْنَا وَأَفْضَلُنَا فَضْلًا وَأَعْظَمُنَا طَوْلًا فَقَالَ قُولُوا بِقَوْلِكُمْ أَوْ بَعْضِ قَوْلِكُمْ وَلَا يَسْتَجْرِيَنَّكُمْ الشَّيْطَانُ

“Aku pergi bersama rombongan utusan bani Amir menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kami lalu berkata, ‘Engkau adalah junjungan kami.’

Beliau langsung menyahut, ‘Junjungan itu hanyalah Allah Ta’ala semata.’

Kami berkata lagi, ‘Engkau adalah yang paling utama di antara kami dan memiliki kemuliaan yang besar.’

Beliau bersabda, ‘Berkatalah kalian dengan perkataan kalian, atau sebagian dari perkataan kalian (tidak perlu banyak pujian), dan jangan sekali-kali kalian terpengaruh oleh setan.’” (HR. Abu Daud No. 4172)

Baca juga: Ulama Umat yang Diam Terhadap Kesesatan

Begitu banyaknya informasi yang menyimpulkan atas terlarangnya sikap ghuluw menunjukkan bahwa sikap tersebut merupakan representasi kondisi lemahnya akal seseorang, tingkat kebodohan terhadap agama pada dirinya, kurangnya pemahaman terhadap agama Islam, dan lain sebagainya.

Oleh sebab itu, penting bagi setiap muslim untuk menyadari betapa perlunya memahami prinsip-prinsip manhaj Ahlu Sunnah Wal Jamaah, sebagai langkah untuk menyelamatkan diri dari berbagai bentuk penyimpangan dalam agama baik penyimpangan yang bersumber dari sikap berlebih-lebihan (ifrath) ataupun meremehkan (tafrith) dalam ranah keyakinan, perkataan, maupun perbuatan atau amal ibadah.

Salah seorang salaf mengatakan—perkataan ini dinukil Syaikh Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam Majmu’ al-Fatawa, 14/483, “Tidaklah Allah ‘azza wajalla memerintahkan sesuatu kecuali setan akan menggelincirkan pelakunya pada dua jurang; jurang ghuluw, dan jurang peremehan (taqshir).” Wallahu a’lam. [Shodiq Alislami, Majalah Fikih Islam Hujjah ed. 43/dakwah.id]

Loading...

Check Also

Fikih Siyasah: Formulasi Penyatuan Islam dan Negara

Fikih Siyasah: Formulasi Penyatuan Islam dan Negara — “Islam Yes, partai Islam No”, sebuah slogan yang sempat …

%d bloggers like this: