php hit counter
Home / Semua / Aqidah / Sifat Kalam: antara ‘Aqidah Ahlus Sunnah, Jahmiyyah dan Asy’ariyyah (Bag. 7)

Sifat Kalam: antara ‘Aqidah Ahlus Sunnah, Jahmiyyah dan Asy’ariyyah (Bag. 7)

Baca pembahasan sebelumnya Sifat Kalam: antara ‘Aqidah Ahlus Sunnah, Jahmiyyah dan Asy’ariyyah (Bag. 6)

Aqidah Asy’ariyyah tentang Sifat Kalam dan Al-Qur’an Bertentangan dengan Aqidah Ahlus Sunnah dan Aqidah Imam Abul Hasan Al-Asy’ari Sendiri

Pada seri-seri sebelumnya kita bisa menyimpulkan beberapa poin pokok berikut ini:

Pertama, ulama ahlus sunnah bersepakat (ijma’), sesuai dengan petunjuk Al-Qur’an dan As-Sunnah, bahwa Allah Ta’ala memiliki sifat kalam yang hakiki, Allah Ta’ala berbicara dengan huruf dan suara yang didengar, namun tidak serupa dengan suara makhluk. Juga ijma’, bahwa Al-Qur’an adalah kalam Allah yang hakiki, dan bukan makhluk.

Ke dua, ‘aqidah Abul Hasan Al-Asy’ari rahimahullahu Ta’ala bersesuaian dengan aqidah ahlus sunnah dalam masalah ini, sebagaimana yang telah kami kutip sebagian perkataan beliau di seri ke lima tulisan ini.

Ke tiga, para ulama ahlus sunnah, seperti Imam Ahmad bin Hanbal dan para ulama ahlus sunnah yang lainnya, telah memvonis orang-orang yang mengingkari sifat kalam Allah sebagai pengikut Jahmiyyah.

Setelah memahami ketiga poin di atas, kita jumpai perkataan para ulama yang menisbatkan diri sebagai Asy’ariyyah (pengikut Abul Hasan Al-Asy’ari), namun aqidah mereka tidak sama dengan aqidah ahlus sunnah, bahkan bertentangan dengan aqidah imam mereka sendiri (Abul Hasan Al-Asy’ari). Oleh karena itu, dalam masalah ini, hakikat aqidah Asy’ariyyah adalah sama dengan aqidah Jahmiyyah, meskipun beda diksi (beda dalam cara mengungkapkan), akan tetapi sama dari segi substansi (Al-Qur’an itu makhluk, bukan kalam Allah).

Berikut kami kutip perkataan tiga tokoh besar Asy’ariyyah dalam masalah ini.

Al-Qadhi Abu Bakr Al-Baaqillaani rahimahullah berkata,

ولا يجوز أن يطلق على كلامه شيئ من أمارة الحدث من حرف ولا صوت

“Kalam Allah tidak boleh dimaksudkan dengan sesuatu yang baru (insidental) (muhdats) (yang merupakan sifat makhluk menurut sangkaan Asy’ariyyah, pen.), yaitu berupa huruf dan suara.” (Al-Inshaaf, hal. 111)

Al-Ghazali rahimahullah berkata,

فإنا معترفون باستحالة قيام الأصوات بذاته وباستحالة كونه متكلما بهذا الاعتبار … وأما الحروف فهي حادثة … وهو صفة قديمة بذات الله تعالى ليس بحرف ولا صوت

“Kami meyakini bahwa mustahil adanya suara dalam Dzat Allah dan mustahil Allah Ta’ala berbicara dengan sifat semacam ini … Adapun huruf, huruf adalah sesuatu yang baru (muhdats)Sifat kalam adalah sifat qadim yang ada pada Dzat Allah, bukan huruf dan bukan pula suara.” (Al-Iqtishaad fil I’tiqaad, hal. 142-174)

Al-Baijuri rahimahullah berkata tentang sifat kalam,

صفة أزلية قائمة بذاته تعالى ليست بحرف ولا صوت

“Yaitu sifat azali (tanpa permulaan, pen.) yang terdapat pada Dzat Allah, bukan huruf, dan bukan pula suara.” (Syarh Jauhar At-Tauhiid, hal. 129)

“Kalam Nafsi” (Kata Batin): Sumber Pokok Penyimpangan Asy’ariyyah

Berdasarkan kutipan di atas, Asy’ariyyah tidaklah meyakini kalam Allah yang hakiki, sebagaimana aqidah ahlus sunnah. Namun, yang mereka maksud dengan “sifat kalam” adalah “kalam nafsi”, yaitu semacam “kata batin”, “berbicara dalam hati” (tidak dengan suara yang didengar) atau “bahasa jiwa”, atau ungkapan-ungkapan semacam itu. Pendekatan untuk memudahkan aqidah Asy’ariyyah ini adalah sebagaimana (maaf) orang bisu (yang tidak bisa berbicara), namun orang bisu tadi bisa “berbicara dari dalam hatinya”. Jadi, “kalam” menurut keyakinan Asy’ariyyah adalah “kata batin”, bukan lafadz, huruf atau suara yang didengar. Sedangkan “kalam” yang berupa lafadz, huruf atau suara yang didengar menurut Asy’ariyyah adalah sesuatu yang baru atau muncul belakangan (insidental) (muhdats), dan muhdats adalah sifat makhluk. Sedangkan Allah tersucikan dari sifat makhluk semacam ini.

“Kalam nafsi” ini bukanlah ide asli orang-orang Asy’ariyyah. Akan tetapi, Asy’ariyyah mengambil ide “kalam nafsi” tersebut dari ‘aqidah Kullabiyah, yaitu para pengikut Abu Muhammad ‘Abdullah bin Sa’iid bin Muhammad bin Kullab Al-Bashri (Ibnu Kullab) (wafat tahun 240 H).

Ulama besar madzhab Syafi’iyyah, Adz-Dzahabi Asy-Syafi’i rahimahullah berkata dalam biografi Ibnu Kullab,

وكان يقول بأن القرآن قائم بالذات بلا قدرة ولا مشيئة، وهذا ما سبق إليه أبدا

“Dia adalah yang mengatakan bahwa Al-Qur’an itu berada pada Dzat Allah, tanpa kekuasaan, dan tanpa kehendak (maksudnya, Allah Ta’ala tidak berkehendak untuk berbicara dengan suara yang didengar, namun hanya berbicara dalam nafs [jiwa] Allah, pen.). Perkataan ini tidak diucapkan sama sekali oleh orang sebelumnya.” (Siyaar A’laam An-Nubalaa’, 11/175)

Inilah hakikat aqidah Asy’ariyyah tentang sifat kalam, yaitu “kalam nafsi”. Al-Baijuri berkata,

واعلم أن كلام الله يطلق على الكلام النفسي بمعنى أنه صفة قائمة بذاته تعالى، وعلى الكلام اللفظي بمعنى أنه خلقه …

“Ketahuilah, bahwa kalam Allah adalah kalam nafsi yang qadim, dalam arti sifat yang ada pada Dzat Allah Ta’ala. (Kalam Allah juga bermakna) lafadz (yang kita baca) (kalam lafdzi), namun maksudnya adalah Allah Ta’ala menciptakannya.” (Lihat perkataan beliau selengkapnya di Syarh Jauhar At-Tauhiid, hal. 130-162)

Ringkasnya, Asy’ariyyah hanya meyakini bahwa Allah Ta’ala berbicara sekali saja dan itu dalam jiwa (nafs) Allah Ta’ala yang qadim (sudah ada sejak zaman azali, yaitu dahulu tanpa permulaan). Allah Ta’ala tidak berbicara secara insidental, yaitu ketika Allah berkehendak untuk berbicara (sebagaimana ‘aqidah ahlus sunnah). Karena jika tidak seperti itu, maka Allah Ta’ala menjadi subjek dari suatu perkara yang baru (muhdats atau hawaadits). Sedangkan muhdats adalah sifat makhluk, mustahil bagi Allah Ta’ala.

Aqidah Asy’ariyyah: Al-Qur’an yang Kita Baca dan Kita Hapal adalah Makhluk, bukan Kalam Allah yang Hakiki

Karena kalam Allah adalah kalam nafsi yang qadim, lalu bagaimana dengan Al-Qur’an? Maka kita bisa menebak dengan mudah, bahwa konsekuensi dari aqidah Asy’ariyyah adalah Al-Qur’an itu makhluk. Al-Qur’an hanyalah ibarat atau ungkapan atau hikayat dari kalam nafsi tersebut, bukan kalam Allah yang hakiki. Kurang lebihnya, Al-Qur’an yang kita baca itu hanyalah bentuk “menceritakan kembali” dari kalam nafsi yang ada di Dzat Allah. Jibril atau Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengungkapkan kalam nafsi Allah tersebut dengan lafadz, ungkapan, hikayat, ibarat atau bahasa yang berasal dari Jibril atau Muhammad. Jadi, Al-Qur’an itu bukan firman Allah yang asli, menurut aqidah Asy’ariyyah.

Gambarannya (untuk memudahkan pemahaman), ada seseorang yang (maaf) bisu, lalu ingin bicara kepada orang lain (misalnya, si A). Karena si A tidak bisa memahami secara langsung maksud orang bisu tadi, lalu si B (yang setiap hari merawat orang bisu tadi sehingga dia sudah lebih paham), mengungkapkan dengan kata-katanya sendiri apa yang dia pahami dari keinginan orang bisu tadi kepada si A. Jadilah si A mendengar suara dan kalimat si B yang mengungkapkan maksud (kata batin) dari orang bisu tersebut. Sehingga si A memahami maksud orang bisu tadi melalui lafadz atau kata-kata yang disampaikan oleh si B.

Aqidah Asy’ariyyah ini sangat jelas kita tangkap dari perkataan Al-Baijuri,

ومذهب أهل السنة أن القرآن الكريم –بمعنى الكلام النفسي- ليس بمخلوق، وأما القرآن –بمعنى اللفظ الذي نقرؤه- فهو مخلوق.

“Madzhab ahlus sunnah (maksudnya, madzhab Asy’ariyyah, pen.) bahwa Al-Qur’an, dalam pengertian kalam nafsi, itu bukan makhluk. Adapun Al-Qur’an dalam pengertian lafdzi, yaitu Al-Qur’an yang kita baca, adalah makhluk.” (Syarh Jauhar At-Tauhiid, hal. 130-162)

Anehnya, setelah bersepakat tentang kalam nafsi dan Al-Qur’an bukan kalam Allah yang hakiki, tokoh-tokoh Asy’ariyyah kemudian berbeda pendapat tentang apakah hakikat dari Al-Qur’an yang kita baca dan kita hapal saat ini. Dalam hal ini, Asy’ariyyah terbagi (terpecah) ke dalam tiga pendapat.

Pendapat pertama, lafadz Al-Qur’an yang kita baca adalah berasal dari Jibril ketika mengungkapkan (“menterjemahkan”) kalam nafsi.

Ini adalah pendapat yang dipegang oleh Fakhruddin Ar-Razi. Beliau rahimahullah berkata,

فَإِنْ قِيلَ كَيْفَ سَمِعَ جِبْرِيلُ كَلَامَ اللَّهِ تَعَالَى، وَكَلَامُهُ لَيْسَ مِنَ الْحُرُوفِ وَالْأَصْوَاتِ عِنْدَكُمْ؟ قُلْنَا يُحْتَمَلُ أَنْ يَخْلُقَ اللَّهُ تَعَالَى لَهُ سَمْعًا لِكَلَامِهِ ثُمَّ أَقْدَرَهُ عَلَى عِبَارَةٍ يُعَبِّرُ بِهَا عَنْ ذَلِكَ الْكَلَامِ الْقَدِيمِ، وَيَجُوزُ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ خَلَقَ فِي اللَّوْحِ الْمَحْفُوظِ كِتَابَةً بِهَذَا النَّظْمِ الْمَخْصُوصِ فَقَرَأَهُ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ فَحَفِظَهُ، وَيَجُوزُ أَنْ يَخْلُقَ اللَّهُ أَصْوَاتًا مُقَطَّعَةً بِهَذَا النَّظْمِ الْمَخْصُوصِ فِي جِسْمٍ مَخْصُوصٍ فَيَتَلَقَّفَهُ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ وَيَخْلُقَ لَهُ عِلْمًا ضَرُورِيًّا بِأَنَّهُ هُوَ الْعِبَارَةُ الْمُؤَدِّيَةُ لِمَعْنَى ذَلِكَ الْكَلَامِ الْقَدِيمِ.

“Kalau ada yang bertanya, “Bagaimanakah Jibril mendengar kalamullah, sedangkan kalamullah itu tidak berupa huruf dan suara menurut keyakinan kalian?” Maka kami jawab, “Bisa jadi: (1) Allah Ta’ala menciptakan bagi Jibril pendengaran untuk mendengar kalam-Nya, lalu Allah Ta’ala menjadikan Jibril mampu membuat ibarat untuk mengungkapkan kalamullah yang qadim tersebut. Atau bisa jadi: (2) Allah Ta’ala menciptakan di Lauhul Mahfudz sebuah kitab dengan susunan yang khusus seperti ini (yaitu Al-Qur’an, pen.), lalu dibaca oleh Jibril dan dihapalnya. Atau bisa jadi: (3) Allah Ta’ala menciptakan suara yang terpisah-pisah dengan susunan yang khusus ini, di jisim tertentu, kemudian diambil (ditangkap) oleh Jibril ’alaihis salaam. Allah Ta’ala ciptakan untuk Jibril berupa ilmu bahwa hal itu adalah ibarat yang mengungkapkan kalam nafsi yang qadim.” (Mafaatiihul Ghaib, 2/277)

Pendapat ke dua, lafadz-lafadz Al-Qur’an itu berasal dari Rasulullah Muhammad ketika mengungkapkan (“menterjemahkan”) kalam nafsi.

Ini adalah pendapat yang dipilih oleh Abu Bakr Al-Baaqillaani. Beliau rahimahullah berkata,

فأخبر تعالى أنه أرسل موسى عليه السلام إلى بني إسرائيل بلسان عبراني، فأفهم كلام الله القديم القائم بالنفس بالعبرانية، وبعث عيسى عليه السلام بلسان سرياني، فأفهم كلام الله القديم بلسانهم، بعث نبينا صلى الله عليه وسلم بلسان العرب، فأفهم قومه كلام الله القديم القائم بالنفس بكلامهم.

“Maka Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Allah mengutus Musa ‘alaihis salam kepada bani Israil dengan bahasa Ibrani. Maka Musa memahamkan kalamullah yang qadim (yaitu kalam nafsi, pen.) dengan bahasa Ibrani. Dan Allah mengutus Nabi Isa ‘alaihis salam dengan bahasa Siryani. Maka Nabi Isa memahamkan kalamullah yang qadim (kalam nafsi, pen.) dengan bahasa Siryani. Dan Allah mengutus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan bahasa Arab. Maka Nabi Muhammad memahamkan kalam nafsi Allah kepada kaumnya dengan bahasa mereka (yaitu bahasa Arab, pen.).” (Al-Inshaaf, hal 101-102)

Pendapat ke tiga, lafadz Al-Qur’an berasal dari makhluk yang Allah ciptakan di Lauhul Mahfudz.

Ini adalah dzahir dari pendapat Al-Baijuri. Al-Baijuri berkata ketika menjelaskan beberapa pendapat Asy’ariyyah dalam masalah ini,

والراجح أن المنزل اللفظ و المعنى، وقيل المنزل: المعنى وعبر عنه جبريل بألفاظ من عنده، وقيل: المنزل المعنى و عبر عنه محمد  صلى الله عليه وسلم وعبر عنه جبريل بألفاظ من عنده، لكن التحقيق الأول، لأن الله خلقه أولا في اللوح المحفوظ، ثم أنزله في صحائف إلى السماء الدنيا

“Pendapat yang dinilai lebih kuat, (Al-Qur’an) itu diturunkan dalam lafadz dan maknanya (ini pendapat pertama, pen.). (Namun) dikatakan  pula: diturunkan dalam bentuk makna saja, lalu diungkapkan oleh Jibril melalui lafadz yang berasal dari Jibril (ini pendapat ke dua, pen.). Dikatakan pula: diturunkan dalam bentuk makna saja, lalu diungkapkan oleh Muhammad melalui lafadz yang berasal dari Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam (ini pendapat ke tiga, pen.). Akan tetapi, pendapat yang terpilih adalah pendapat pertama. Karena Al-Qur’an diciptakan pertama kali di Lauhul Mahfudz, lalu diturunkan dalam lembaran-lembaran ke langit dunia.” (Syarh Jauhar At-Tauhiid, hal. 130-162)

Jadi, menurut Al-Baijuri, Al-Qur’an yang kita baca ini memang diturunkan dalam bentuk lafadz dan makna. Namun, lafadz dan makna ini adalah makhluk yang diciptakan secara khusus di Lauhul Mahfudz, bukan firman Allah Ta’ala yang hakiki.

Anehnya, Al-Baijuri sendiri mementahkan pendapat Ar-Razi (lafadz Al-Qur’an berasal dari Jibril) dan Al-Baaqillaani (lafadz Al-Qur’an berasal dari Rasulullah Muhammad), padahal mereka semua sama-sama menisbatkan diri dalam madzhab Asy’ariyyah. Maka renungkanlah hal ini.

Inilah hakikat sesungguhnya dari aqidah Asy’ariyyah tentang Al-Qur’an. Namun, mereka tidak mau untuk mengungkapkan hal ini secara terang-terangan di hadapan kaum muslimin.

Dua orang penulis yang menisbatkan dirinya sebagai pengikut Asy’ariyyah berkata,

فإن الْقُرْآنُ كَلَامُ اللَّه غير مَخْلُوق، وهو صفة من صفات ذاته العلية

“Sesungguhnya Al-Qur’an adalah kalamullah, bukan makhluk. Kalam adalah salah satu sifat di antara sifat Allah.” (Ahlus Sunnah Al-Asyaa’irati Syahaadatu ‘Ulamaa Al-Ummati wa Adillatuhum, hal. 54)

Jangan tertipu dengan ungkapan semacam ini. Karena “Al-Qur’an” yang mereka maksud adalah “kalam nafsi”. Adapun Al-Qur’an yang sekarang ini kita baca, kita hapal, dan tertulis di mushaf-mushaf, “hanyalah” ungkapan atau ibarat dari kalam nafsi tadi, dan itu adalah makhluk menurut aqidah Asy’ariyyah.

Perhatikanlah baik-baik ucapan Al-Baijuri berikut ini,

لكنه يمتنع أن يقال : القرآن مخلوق، ويراد به اللفظ الذي نقرؤه إلا في مقام التعليم، لأنه ربما أوهم أن القرآن –بمعنى الكلام النفسي- مخلوق

“Akan tetapi, tidak boleh dikatakan bahwa Al-Qur’an itu makhluk, jika yang dimaksudkan adalah lafadz yang kita baca, kecuali dalam pengajaran. Karena bisa disangka bahwa Al-Qur’an -yaitu kalam nafsi- adalah makhluk.” (Syarh Jauhar At-Tauhiid, hal. 130-162)

Jadi, menurut Al-Baijuri, di forum-forum umum (bersama masyarakat awam), jangan terang-terangan untuk mengatakan “Al-Qur’an yang kita baca itu makhluk”. Asy’ariyyah baru berani mengatakan “Al-Qur’an itu makhluk” hanya di forum khusus saja, yaitu di forum pengajaran (kelas) mereka sendiri.

Kesimpulan dari aqidah Asy’ariyyah tentang Al-Qur’an adalah bahwa Al-Qur’an yang dibaca oleh kaum muslimin adalah makhluk, sama persis dengan aqidah Jahmiyyah. Namun, berbeda saja dari sisi cara (metode) mengungkapkannya.

[Bersambung]

***

Diselesaikan di sore hari, Rotterdam NL, 27 Rajab 1439/14 April 2018

Penulis: M. Saifudin Hakim

 

Referensi:

[1]     Pembahasan ini disarikan dari kitab (dengan sedikit penambahan): Al-Asyaa’iroh fil Mizaani Ahlis Sunnah karya Syaikh Faishal bin Qazar Al-Jaasim, penerbit Al-Mabarrat Al-Khairiyyah li ‘Uluumi Al-Qur’an was Sunnah Kuwait cetakan ke dua tahun 1431, hal. 525-539.

    Sebagian kutipan perkataan para tokoh Asy’ariyyah dalam tulisan di atas adalah melalui perantaraan kitab tersebut. Sebagian yang lainnya adalah melalui software Maktabah Asy-Syamilah.

Print Friendly, PDF & Email

Loading...

Check Also

Aqidah Al-Wala’ wal Bara’, Aqidah Asing yang Dianggap Usang (Bag. 2)

Baca pembahasan sebelumnya Aqidah Al-Wala’ wal Bara’, Aqidah Asing yang Dianggap Usang (Bag. 1) Bentuk-bentuk …

%d bloggers like this: