php hit counter
Home / Semua / Aqidah / Sifat Allah: Apakah hanya Tujuh atau Dua Puluh? (Bag. 3)

Sifat Allah: Apakah hanya Tujuh atau Dua Puluh? (Bag. 3)

Baca juga Sifat Allah: Apakah hanya Tujuh atau Dua Puluh? (Bag. 2)

Sanggahan Ahlus Sunnah kepada Kelompok yang Membatasi Sifat Allah dengan Jumlah Tertentu

Sanggahan pertama: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membatasi sifat Allah dengan jumlah tertentu.

Kalau seseorang mau mempelajari aqidah yang benar, bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, akan jelas dan tampak baginya bahwa nama dan sifat Allah Ta’ala tidaklah dibatasi dengan bilangan tertentu. Hal ini karena Allah Ta’ala memiliki nama-nama dan sifat-sifat yang Allah Ta’ala simpan dalam ilmu ghaib-Nya, yang tidak diketahui oleh seorang pun dari para malaikat atau nabi yang diutus. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَداً مِنْ خَلْقِكَ أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِى كِتَابِكَ أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِى عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ

”Aku memohon kepada Engkau dengan semua nama yang menjadi nama-Mu, baik yang telah Engkau jadikan sebagai nama diri-Mu atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu atau Engkau turunkan dalam kitab-Mu atau Engkau sembunyikan menjadi ilmu ghaib di sisi-Mu.(HR. Ahmad no. 3712. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 3528)

Nama-nama yang Allah Ta’ala sembunyikan menjadi ilmu ghaib di sisi-Nya, maka tidak mungkin dapat dihitung dan diketahui oleh makhluk-Nya. Oleh karena itu, di akhirat kelak Allah Ta’ala akan membukakan kepada Rasulullah untuk memuji-Nya dengan sifat-sifat yang belum pernah diajarkan di dunia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثُمَّ يَفْتَحُ اللَّهُ عَلَىَّ مِنْ مَحَامِدِهِ وَحُسْنِ الثَّنَاءِ عَلَيْهِ شَيْئًا لَمْ يَفْتَحْهُ عَلَى أَحَدٍ قَبْلِى

”Maka Allah mengilhamkan kepadaku (untuk mengungkapkan) segala pujian kepada-Nya yang tidak diajarkan kepada seorang pun sebelumku.” (HR. Bukhari no. 4712. Hadits ini adalah potongan dari sebuah hadits yang sangat panjang.)

Sampai-sampai Rasulullah sendiri tidak mampu menghitung pujiannya kepada Allah Ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا أُحْصِي ثَنَاء عَلَيْك أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْت عَلَى نَفْسك

”Aku tidak bisa menghitung pujian kepada-Mu seperti Engkau memuji terhadap diri-Mu.” (HR. Muslim no. 1118)

Sanggahan ke dua: Allah memiliki banyak nama yang sekaligus mengandung sifat.

Kalaulah kita mau membuka lembaran Al-Qur’an dan membolak-balik kitab hadits, maka kita akan menemukan puluhan nama-nama Allah Ta’ala. Padahal, setiap nama Allah Ta’ala juga menunjukkan kepada sifat-Nya yang mulia.

Kalau Allah Ta’ala menyebutkan nama As-Samii’, maka hal ini menunjukkan bahwa Allah Ta’ala memiliki sifat mendengar (as-sam’u). Kalau Allah Ta’ala menyebutkan nama Al-‘Aliim, hal ini menunjukkan bahwa Allah Ta’ala memiliki ilmu (al-‘ilmu). Dan demikian seterusnya untuk nama-nama Allah Ta’ala yang lain. Berbeda dengan nama makhluk (manusia biasa, kecuali Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam), bisa jadi hanya sekedar nama tanpa menunjukkan sifat. Ada seseorang yang bernama “Shalih”, namun mungkin saja perilakunya tidak mencerminkan namanya.

Berarti, jumlah sifat Allah Ta’ala mengikuti jumlah nama Allah Ta’ala. Hal ini belum termasuk dengan sifat-sifat yang disebutkan secara khusus oleh Allah Ta’ala maupun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, darimana kita mengatakan bahwa sifat Allah Ta’ala hanya tujuh atau dua puluh?

Sebagian di antara kita mungkin menghapal al-asmaaul husnaa yang berjumlah sembilan puluh sembilan. Meskipun hal ini tidak berarti menunjukkan pembatasan nama Allah hanya sejumlah itu, sebagaimana yang telah kami jelaskan di tulisan lainnya. [1] Kalau sifat Allah hanya dua puluh, berarti ada 79 nama Allah yang tidak mengandung sifat (99 dikurangi 20).

Kalau kita menetapkan hanya dua puluh sifat, berarti Allah tidak memiliki sifat al-‘izzah (kekuatan). Berarti nama Allah Ta’ala Al-‘Aziiz adalah sekedar nama, namun tidak mengandung sifat, karena sifat al-‘izzah tidak terdapat dalam dua puluh sifat tersebut. Lalu, apa bedanya aqidah ini dengan aqidah Mu’tazilah yang hanya menetapkan nama tanpa sifat?

Sanggahan ke tiga: Membatasi jumlah sifat Allah secara tidak langsung mencela Allah Ta’ala.

Bahkan kalau kita cermati dan mau berfikir sejenak, pembatasan sifat Allah Ta’ala hanya dua puluh saja, secara tidak langsung berarti mencela Allah Ta’ala. Karena Allah Ta’ala itu sangat mulia dan sangat sempurna, dan kesempurnaan itu menjadi berkurang dan bahkan hilang jika Allah Ta’ala hanya disifati dengan dua puluh sifat saja.

Permisalan yang mudah adalah jika kita katakan kepada seseorang (anggaplah namanya A), ”Engkau itu orangnya dermawan dan suka pemaaf.”

Lalu kita katakan kepada orang lain (anggaplah namanya B), ”Engkau itu orangnya baik hati, suka menolong, penyabar, suka memaafkan kesalahan orang lain, pengertian, tidak egois, pintar, suka berhemat, rendah hati, ramah, selalu sehat, … “.

Maka pertanyaannya, ”Siapakah yang lebih baik dan sempurna?”  Maka tentu kita semua sepakat bahwa yang lebih baik dan lebih sempurna adalah orang B.

Demikian pula halnya dengan Allah Ta’ala. Sehingga salah satu metode yang digunakan Allah Ta’ala untuk menunjukkan kesempurnaan-Nya adalah dengan merinci dan memperbanyak penyebutan untuk menetapkan sifat-sifatNya yang mulia. Karena semakin banyak dan rinci sifat-sifat yang Allah Ta’ala sebutkan, maka akan semakin tampaklah kebesaran, keagungan, dan kesempurnaan Allah Ta’ala dari segala sisi. [2]

Contohnya adalah firman Allah Ta’ala,

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ (22) هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ (23) هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (24)

“Dia-lah Allah yang tiada sesembahan (yang benar) selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata. Dia-lah Yang Maha pemurah lagi Maha penyayang. Dia-lah Allah, Yang tiada sesembahan (yang benar) selain Dia, Raja, Yang Maha suci, Yang Maha sejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Maha memelihara, Yang Maha perkasa, Yang Maha kuasa, Yang Memiliki segala keagungan, Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dia-lah Allah, Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk rupa, Yang Mempunyai asmaaul husna (nama-nama yang indah). Bertasbih kepada-Nya apa yang di langit dan bumi. Dan Dia-lah Yang Maha perkasa lagi Maha bijaksana.” (QS. Al-Hasyr [59]: 22-24)

Dalam ayat ini, sangat tampak bagi kita penyebutan nama-nama dan sifat-sifat Allah Ta’ala yang sangat terperinci dalam satu ayat saja. Karena sekali lagi, semakin banyak dan rinci penyebutan sifat-sifat Allah Ta’ala, maka akan semakin tampaklah kesempurnaan Allah Ta’ala dari segala sisi. Oleh karena itu, merupakan sebuah celaan kepada Allah Ta’ala apabila kita berbuat lancang dengan hanya menetapkan tujuh atau dua puluh sifat saja bagi Allah Ta’ala.

Kalau sifat Allah hanya tujuh atau dua puluh, berarti apakah semua sifat yang Allah tetapkan dalam satu ayat tersebut saja, semuanya harus kita tolak?

Oleh karena itu, kelompok Asy’ariyyah secara tidak langsung “mengatur-atur” Allah. Bahwa makhluk yang berhak menentukan bagi Allah, Allah hanya boleh memiliki dua puluh sifat saja, tidak boleh memiliki sifat yang lainnya. Bukankah ini tindakan yang tidak memiliki adab kepada Allah? Membatasi sifat Allah, padahal Allah memiliki sifat yang tidak terbatas, karena kesempurnaan Allah luar biasa, mencapai puncak kesempurnaan-Nya. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri tidak mampu menghitung pujiannya kepada Allah Ta’ala, lalu ada di antara umatnya (yaitu tokoh-tokoh Asy’ariyyah) yang mampu menghitungnya menjadi dua puluh sifat saja (???).

Sanggahan ke empat: Jika (hanya) akal yang digunakan sebagai sumber penetapan aqidah (sifat Allah Ta’ala), lalu akal siapakah yang menjadi patokan?

Masalah ini sangat jelas. Jika akal digunakan sebagai sandaran (sumber) dalam menetapkan sifat Allah Ta’ala, maka pertanyaan berikutnya, akal siapakah yang layak untuk digunakan sebagai patokan kebenaran? Hal ini akan menyebabkan kontradiksi antar kelompok “pemuja akal” yang tidak akan ada ujungnya, bahkan antar ulama Asy’ariyyah sendiri.

Madzhab Jahmiyyah, hasil olah pikir akal mereka adalah: Allah tidak memiliki nama dan sifat. Madzhab Mu’tazilah, hasil olah pikir akal dan logika mereka adalah: Allah memiliki nama, namun nama Allah tidak mengandung sifat. Begitu pula para tokoh yang menisbatkan dirinya kepada madzhab Asy’ariyyah, hasil olah pikir akal mereka ternyata beragam.

Imam madzhab Abul Hasan Al-Asy’ari (sebelum bertaubat), dan tokoh mutaqoddimin (generasi awal) dari kalangan Asy’ariyyah, seperti Al-Qadhi Abu Bakr bin Ath-Thayyib Al-Baqillani, Ibnu Faruk, dan tokoh-tokoh selain mereka, mereka juga menetapkan sifat dzatiyyah khabariyyah (yaitu sifat yang hanya bisa ditetapkan melalui dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah, semacam sifat al-wajhu [wajah] dan al-yadain [dua tangan]) secara hakiki [bukan majaz]), selain tujuh sifat tersebut.

Pada akhirnya, datanglah tokoh Asy’ariyyah generasi belakangan (muta’akhirin) yang kondisinya lebih parah dari generasi sebelumnya, karena mereka hanya menetapkan tujuh sifat saja bagi Allah Ta’ala, yaitu Abul Ma’ali Al-Juwaini dan tokoh-tokoh yang sejaman dengannya. Berbeda lagi dengan Maturidiyyah yang hanya menetapkan delapan sifat bagi Allah. [3]

Lalu, dari semua perbedaan itu, manakah yang benar? Padahal mereka semua mengklaim bahwa sifat-sifat tersebut ditetapkan dengan akal. Akan tetapi faktanya, “produk akal” mereka ternyata berbeda-beda.

Ketika tokoh-tokoh Asy’ariyyah sendiri berbeda-beda dalam hal (metode) penetapan sifat Allah Ta’ala, sesuai inovasi akal mereka, maka ini adalah bukti nyata bahwa aqidah mereka semuanya tidaklah dibangun di atas Al-Qur’an dan As-Sunnah, alias tidak berasal dari Allah Ta’ala. Bukti tersebut adalah adanya perselisihan yang sangat banyak, bahkan di antara tokoh-tokoh mereka sendiri yang menyebut dirinya bermadzhab Asy’ariyyah.

Maka benarlah firman Allah Ta’ala,

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an? Kalau kiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapatkan pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS. An-Nisa’ [4]: 82)

Sanggahan ke lima: Kami pun bisa menetapkan sifat Allah yang lainnya dengan akal kami pula.

Sanggahan berikutnya, kalau kalian menetapkan dengan akal, maka kami pun bisa menetapkan dengan akal kami. Apa yang tidak bisa Asy’ariyyah tetapkan dengan akal mereka, kami bisa tetapkan dengan akal kami. Karena kami pun memiliki akal juga, sama dengan Asy’ariyyah.

Contoh: Nikmat-nikmat Allah yang kita dapatkan, dan sebaliknya, adanya musibah yang diangkat dari diri kita, semua ini menunjukkan sifat rahmat (kasih sayang) Allah Ta’ala. Turunnya hujan dan tumbuhnya berbagai macam tanaman juga merupakan bukti adanya rahmat tersebut. Jadi semua nikmat yang kita terima pada asalnya menunjukkan adanya sifat rahmat Allah Ta’ala. [4]

Sehingga, akal kita pun bisa menetapkan sifat tertentu bagi Allah, meskipun sifat tersebut tidak ditetapkan oleh akal mereka.

Sanggahan ke enam: Tujuh atau dua puluh sifat tersebut hanya untuk menyederhanakan untuk memahamkan masyarakat awam (?)

Sebagian di antara pengikut Asy’ariyyah mengatakan bahwa dua puluh sifat tersebut hanya untuk menyederhanakan untuk disampaikan ke masyarakat awam.

Perkataan semacam ini menunjukkan bahwa mereka sendiri belum paham aqidah Asy’ariyyah yang dipegangi oleh tokoh-tokoh atau ulama-ulama Asy’ariyyah (generasi muta’akhirin). Karena pada prakteknya, mereka membatasi sifat Allah hanya dalam tujuh atau dua puluh sifat tersebut saja. Jadi, bukan sekedar “menyederhanakan” sesuai dengan klaim dan anggapan mereka. Karena untuk sifat-sifat lainnya, pada kenyataannya mereka tolak dengan alasan harus di-takwil (sesuai akal logika mereka), yang hakikatnya adalah tahrif.

Penulis sendiri dulu belajar enam tahun dan bergumul dengan aqidah Asy’ariyyah yang menetapkan dua puluh sifat, dan selama enam tahun belajar, penulis tidak pernah diajarkan bahwa Allah memiliki dua tangan (yadain), bahwa Allah memiliki wajah (al-wajhu), dua bahwa Allah memiliki dua mata (‘ainain) (semuanya tanpa tasybih dan takyif), padahal ini adalah aqidah ahlus sunnah yang sangat jelas dan terang benderang.

Maka benarlah perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu Ta’ala,

…بل أبو المعالي الجويني، ونحوه ممن انتسب إلى الأشعري، ذكروا في كتبهم من الحجج العقليات النافية للصفات الخبرية ما لم يذكره ابن كلاب والأشعري وأئمة أصحابهما، كالقاضي أبي بكر بن الطيب وأمثاله، فإن هؤلاء متفقون على إثبات الصفات الخبرية، كالوجه واليد والاستواء.

“ … bahkan Abul Ma’ali Al-Juwaini, dan tokoh semisal yang menisbatkan diri kepada aqidah Asy’ariyyah, mereka menyebutkan dalam kitab-kitab mereka berbagai argumentasi akal logika untuk menolak sifat-sifat khabariyyah, yang (argumentasi) tersebut tidak disebutkan oleh Ibnu Kullab, Abul Hasan Al-Asy’ari, dan para imam yang merupakan sahabat keduanya, semacam Al-Qadhi Abu Bakr bin Thayyib dan lainnya. Karena mereka (Asy’ariyyah generasi awal), menetapkan sifat-sifat khabariyyah seperti sifat (Allah memiliki) wajah (al-wajhu), tangan (yadain) dan juga sifat istiwa’.” [5]

Contoh lainnya, mereka (Asy’ariyyah) menolak sifat Allah ghadhab (Allah murka), karena tidak terdapat dalam dua puluh sifat. Sehingga mereka pun mentakwil sifat tersebut menjadi “memberikan hukuman”. Fakhruddin Ar-Razi rahimahullah (tokoh Asy’ariyyah generasi muta’akhirin) berkata,

وكذلك الغضب له مبدأ وهو غليان دم القلب وشهوة الانتقام، وله غاية وهي إيصال العقاب إلى المغضوب عليه، فإذا وصفنا الله تعالى بالغضب فليس المراد هو ذلك المبدأ أعني غليان دم القلب وشهوة الانتقام، بل المراد تلك النهاية وهي إنزال العقاب، فهذا هو القانون”

“Demikian pula ghadhab (murka), itu memiliki permulaan. Yaitu mendidihnya darah di dalam hati dan keinginan (syahwat) untuk memberikan hukuman. Dan ghadhab memiliki akhir (ghayah), yaitu pelaksanaan hukuman kepada yang dimurkai. Jika kita mensifati Allah dengan sifat ghadhab, maka maksudnya bukan permulaan tersebut, yaitu mendidihnya darah di dalam hati dan keinginan (syahwat) untuk memberikan hukuman. Akan tetapi, yang kami maksud adalah titik akhirnya, yaitu pemberian hukuman. Inilah qanun (undang-undang) (Asy’ariyyah).” [6]

Jelaslah dari kutipan ini bahwa Fakhruddin Ar-Razi menolak sifat Allah ghadhab yang hakiki (aqidah ahlus sunnah) sesuai dengan keagungan Allah tanpa membagaimanakan (takyif) dan  menyerupakan dengan makhluk-Nya (tasybih), lalu mentakwilnya menjadi “memberikan hukuman”.

Konsekuensi dari perkataan Fakhruddin Ar-Razi, kalau kita katakan, “Jangan berbuat dosa, nanti Allah murka”, maka kalimat ini adalah kalimat yang salah menurut ‘aqidah Asy’ariyyah. Karena sifat ghadhab tidak ada dalam dua puluh sifat.

Konsekuensi lainnya, ucapan Fakhruddin Ar-Razi ini berarti bahwa semua dosa yang dilakukan hamba pasti mendatangkan hukuman (adzab) dari Allah, sama persis dengan aqidah Mu’tazilah dan Khawarij. Berbeda dengan aqidah ahlus sunnah, karena ahlus sunnah meyakini bahwa pelaku dosa besar bisa saja Allah Ta’ala ampuni (tidak Allah berikan hukuman), selain dosa syirik akbar yang dibawa mati. [7]

Sanggahan ke tujuh: Konsekuensi dari aqidah Asy’ariyyah adalah Asy’ariyyah sendiri melakukan tasybih.

Contoh dari perkataan Ar-Razi di atas, Ar-Razi dan tokoh-tokoh Asy’ariyyah lainnya, berpendapat bahwa jika kita menetapkan makna ghadhab secara hakiki, maka konsekuensinya menyamakan Allah dengan makhluk. Karena ghadhab menurut mereka adalah mendidihnya darah dalam hati dan syahwat untuk menghukum. Ini adalah sifat makhluk. Oleh karena itu, harus ditolak (supaya tidak terjerumus dalam tasybih) dalam bentuk ditakwil.

Kalau begitu, kalian sendiri pun melakukan tasybih. Karena jika kalian tetapkan sifat iradah (berkehendak), maka kalian juga menyamakan Allah dengan makhluk. Karena iradah adalah condongnya hati untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Ini sifat makhluk, karena makhluk juga memiliki kehendak, sebagaimana yang sudah kita maklumi. Jadi, seharusnya kalian (Asy’ariyyah) juga menolak sifat iradah. Lalu, mengapa kalian justru menetapkannya?

Maka Asy’ariyyah akan menjawab, “Iradah yang kami tetapkan adalah iradah yang sesuai dengan keagungan dan kebesaran Allah Ta’ala, tidak sama dengan makhluk.”

Jawaban ahlus sunnah, “Begitu juga kami, kami pun menetapkan sifat ghadhab (murka) sesuai dengan keagungan dan kebesaran Allah Ta’ala, tidak sama dengan makhluk.”

Inilah praktek dari sebuah kaidah yang sangat masyhur yang dimiliki oleh ahlus sunnah ketika membantah Asy’ariyyah,

الْقَوْلُ فِي بَعْضِ الصِّفَاتِ كَالْقَوْلِ فِي بَعْضٍ

“Perkataan (keyakinan) terhadap sebagian sifat-sifat (Allah) adalah sebagaimana perkataan (keyakinan) terhadap sebagian (sifat-sifat Allah yang lainnya).”

Maksudnya, sebagaimana kalian (Asy’ariyyah) menetapkan sifat mendengar (as-sam’u) dan melihat (al-bashar), sesuai dengan keagungan dan kebesaran Allah Ta’ala, tidak sama dengan makhluk, begitu pula kami (ahlus sunnah) pun menetapkan sifat yadain, wajah, ‘ainain, ghadhab, ridho, dan mahabbah (dan seluruh sifat-sifat lainnya) sesuai dengan keagungan dan kebesaran Allah Ta’ala, tidak sama dengan makhluk.

Jika kalian membedakan antara iradah (yaitu, dengan meyakininya dan tidak ditakwil) dan mahabbah atau ghadhab (yaitu, dengan menolaknya karena tidak ada dalam tujuh atau dua puluh sifat lalu ditakwil ke makna lainnya), maka aqidah kalian adalah aqidah yang kontradiktif, tidak bisa diterima oleh akal sehat.

Sanggahan ke delapan: Aqidah Asy’ariyyah ini ternyata tidak sama dengan aqidah Abul Hasan Al-Asy’ari.

Sebagai sanggahan terahir, kami sampaikan bahwa aqidah kelompok Asy’ariyyah yang membatasi sifat hanya menjadi tujuh atau dua puluh, dan menolak sifat-sifat lainnya (misalnya sifat yadain, ‘ainain, dan wajah) ternyata diselisihi oleh Abul Hasan Al-Asy’ari rahimahullah itu sendiri. Atau dengan kata lain, aqidah Asy’ariyyah (yaitu mereka yang mengaku mengikuti Abul Hasan Al-Asy’ari) itu tidak sama dengan aqidah Abul Hasan Al-Asy’ari rahimahullah itu sendiri (setelah bertaubat dan kembali ke aqidah ahlus sunnah).

Abul Hasan Al-Asy’ari rahimahullah berkata,

فإن سئلنا أتقولون أن لله يدين؟ قيل: نقول ذلك ، وقد دل عليه قوله تعالى: (يد الله فوق أيديهم) ، وقوله تعالى: (لما خلقت بيدي)

“Ditanyakan kepada kami, apakah Engkau mengatakan (meyakini) bahwa Allah memiliki yadain (dua tangan)? Kami (Abul Hasan Al-Asy’ari) mengatakan demikian (bahwa Allah memiliki dua tangan, pen.). Hal itu telah ditunjukkan oleh firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Tangan Allah di atas tangan mereka” (QS. Al-Fath [48]: 10) dan firman Allah Ta’ala (yang artinya), “yang telah Aku ciptakan dengan kedua tangan-Ku.” (QS. Shaad [38]: 75)” [8]

Di awal kitab, beliau dengan tegas mengatakan,

وأن له يدين بلا كيف

“Sesungguhnya Allah memiliki dua tangan (yadain), tanpa (perlu) memvisualisasikannya.” [9]

Berkaitan dengan sifat wajah, Abul Hasan Al-Asy’ari rahimahullah berkata,

وأن له وجها بلا كيف

“Sesungguhnya Allah memiliki wajah, tanpa (perlu) memvisualisasikannya.” [10]

Lalu, tentang sifat ‘ainain, Abul Hasan Al-Asy’ari rahimahullah berkata,

وأن له عينين بلا كيف

“Sesungguhnya Allah memiliki dua mata (‘ainain), tanpa (perlu) memvisualisasikannya.” [11]

Dan di kitab yang sama, beliau (Abul Hasan Al-Asy’ari) menetapkan sifat istiwa’ (tinggi di atas ‘arsy). Abul Hasan Al-Asy’ari rahimahullah berkata,

وأن الله تعالى مستو على عرشه

“Dan sesungguhnya Allah Ta’ala itu istiwa’ (tinggi di atas) ‘arsy-Nya.” [12]

Bahkan, beliau rahimahullah sendiri membantah aqidah Asy’ariyyah yang menolak sifat istiwa’ dan mentakwilnya menjadi “istaula” (menguasai) di kitab yang sama. [13]

Dan kita tahu, bahwa aqidah Asy’ariyyah adalah menolak untuk menetapkan sifat yadain, ‘ainain, wajh dan istiwa’. Sungguh aneh, aqidah Asy’ariyyah ini sebetulnya mengikuti aqidah siapa? Jawabannya, tidak lain adalah mengikuti aqidah Mu’tazilah. Jadi, ketika orang-orang yang mengaku bermadzhab Asy’ariyyah memberikan bantahan kepada aqidah ahlus sunnah yang menetapkan sifat-sifat di atas, pada hakikatnya mereka sedang membantah aqidah sang imam mereka sendiri (yaitu Abul Hasan Al-Asy’ari).

Kesimpulan

Berdasarkan poin-poin penjelasan ini, maka aqidah Asy’ariyyah yang menetapkan sifat Allah hanya tujuh atau dua puluh, tidaklah sesuai dengan aqidah ahlus sunnah yang menetapkan semua nama dan sifat yang ditetapkan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya di dalam kitabullah (Al-Qur’an) dan As-Sunnah. Bahkan bertentangan dengan aqidah imam mereka sendiri, yaitu Abul Hasan Al-Asy’ari rahimahullah. Karena nama dan sifat termasuk dalam perkara ghaib, sehingga seharusnya, akal manusia tunduk kepada wahyu yang telah Allah Ta’ala turunkan, bukan sebaliknya.

Namun, perlu diketahui bahwa ketika kita menjelaskan kesalahan ‘aqidah Asy’ariyyah dalam masalah asma’ dan sifat, hal itu tidak berarti kita mengkafirkan mereka. Tidak ada satu pun ulama ahlus sunnah yang mengatakan kafirnya Asy’ariyyah. Jadi, anggapan sebagian orang bahwa ketika kita menjelaskan dan membantah aqidah Asy’ariyyah, maka hal itu berarti kita mengafirkan mereka, adalah anggapan yang tidak benar sama sekali. Hal ini harus kami tekankan dan kami garis bawahi. Bahkan kita dapati, para ulama ahlus sunnah memberikan ‘udzur kepada tokoh-tokoh Asy’ariyyah, bahwa maksud mereka sebetulnya baik, yaitu tidak ingin terjerumus dalam tasybih (menyamakan Allah Ta’ala dengan makhluk). Namun, mereka kemudian salah jalan dengan tidak mengikuti manhaj para sahabat radhiyallahu ‘anhum dalam memahami nama dan sifat Allah Ta’ala. Mereka ingin terhindar dari tasybih, namun justru terjerumus dalam takwil dan tafwidh (baca: muta’awwil). Ini menunjukkan bahwa niat mereka sebetulnya adalah mencari kebenaran. Oleh karena itu, kita dapati sebagian di antara mereka ada yang kemudian bertaubat, seperti Abul Ma’ali Al-Juwaini dan Al-Ghazali -semoga Allah Ta’ala merahmati mereka semuanya-.

[Selesai]

***

Diselesaikan ba’da shubuh, Rotterdam NL, 9 Rajab 1439/28 Maret 2018

 

Penulis: Muhammad Saifudin Hakim
Artikel: Muslim.or.id

Catatan kaki:

[1]     https://muslim.or.id/35255-besarnya-pahala-menghitung-nama-nama-allah-taala.html

[2]    Lihat Syarh Al-Qowa’idul Mutsla hal. 134-135, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah, cetakan pertama, penerbit Daarul Atsar tahun 1423.

[3]     Syarh Risaalah At-Tadmuriyyah li Syaikhil Islaam Ibnu Taimiyyah, oleh Syaikh Dr. Yusuf Al-Ghofish. Dalam bentuk file ceramah dan manuskrip di sini:

http://audio.islamweb.net/audio/index.php?page=lecview&sid=1119&read=1&lg=656

[4]    Syarh Al-‘Aqidah As-Safariyaniyyah, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala, penerbit Madaarul Wathan KSA, cetakan ke dua tahun 1434, hal. 202-203.

[5]    Dar’u Ta’arudhi Al-‘Aqli wan Naqli, 5/248 (Maktabah Syamilah).

[6]    Asaasut Taqdiis, hal. 147-148.

[7]    https://dorar.net/firq/438

[8]    Al-Ibaanah ‘an Ushuul ad-Diyaanah, hal. 443.

[9]    Idem., hal. 214.

[10]    Idem., hal. 213.

[11]    Idem., hal. 215.

[12]    Idem., hal. 204.

[13]    Silakan dilihat kembali tulisan kami yang mengutip perkataan Abul Hasan Al-Asy’ari di sini:

Ketika Mereka Menolak Sifat ‘Uluw dan Istiwa’ (Bag. 4)

Print Friendly, PDF & Email

Loading...

Check Also

Masuk Surga dan Neraka Hanya Karena Seekor Lalat

Hadits berikut menunjukkan bahwa tauhid itu sangat penting dan syirik itu benar-benar bahaya, walaupun sebagian …

%d bloggers like this: