php hit counter
Home / Fiqh dan Muamalah / Mengkhususkan Hari Jum’at untuk Berpuasa Sunnah

Mengkhususkan Hari Jum’at untuk Berpuasa Sunnah

Hari Jum’at adalah hari yang penuh berkah dan memiliki banyak keutamaan. Hari Jum’at adalah hari yang paling utama (paling afdhal) dari semua hari dalam satu pekan. Di antara keberkahannya adalah disyariatkannya shalat Jum’at pada hari tersebut yang dapat menggugurkan dosa antara Jum’at itu dengan Jum’at pekan sebelumnya.

Dalam tulisan serial ini, penulis akan membahas beberapa kesalahan dan kekeliruan kaum muslimin yang umum terjadi berkaitan dengan ibadah di hari Jum’at. Semoga tulisan yang singkat ini bermanfaat.

Baca Juga: Agar Tidak Tertidur Ketika Khutbah Jumat

Mengkhususkan hari Jum’at untuk berpuasa sunnah

Terdapat banyak hadits yang menunjukkan larangan untuk mengkhususkan hari Jum’at dengan melaksanakan ibadah puasa.

Diriwayatkan dari Muhammad bin ‘Abbad, beliau berkata,

سَأَلْتُ جَابِرًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ الجُمُعَةِ؟ قَالَ: نَعَمْ

“Aku bertanya kepada Jabir radhiyallahu ‘anhu tentang larangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berpuasa di hari Jum’at?” Jabir berkata, “Iya.” (HR. Bukhari no. 1984 dan Muslim no. 1143)

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا تَخْتَصُّوا لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ بِقِيَامٍ مِنْ بَيْنِ اللَّيَالِي، وَلَا تَخُصُّوا يَوْمَ الْجُمُعَةِ بِصِيَامٍ مِنْ بَيْنِ الْأَيَّامِ، إِلَّا أَنْ يَكُونَ فِي صَوْمٍ يَصُومُهُ أَحَدُكُمْ

“Janganlah kalian mengkhususkan malam Jum’at dengan shalat malam di antara malam-malam yang lain, dan jangan pula mengkhususkan hari Jum’at dengan berpuasa, kecuali memang bertepatan dengan hari puasanya.” (HR. Muslim no. 1144)

Hadits-hadits di atas menunjukkan larangan untuk mengkhususkan hari Jum’at dengan ibadah berpuasa. Jumhur (mayoritas) ulama menilai hukumnya makruh. Sedangkan sebagian ulama lain, termasuk Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu Ta’ala, berpendapat hukumnya haram.

Baca Juga: Agar Khutbah Jumat Bermanfaat Dan Berkesan Bagi Jamaah

Adapun jika diiringi dengan berpuasa sebelum atau sesudah hari Jum’at, maka hal ini diperbolehkan. Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَصُومَنَّ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الجُمُعَةِ، إِلَّا يَوْمًا قَبْلَهُ أَوْ بَعْدَهُ

“Janganlah kalian berpuasa di hari Jum’at, kecuali jika diiringi dengan berpuasa di hari sebelum atau sesudahnya.” (HR. Bukhari no. 1985 dan Muslim no. 1144)

Diriwayatkan dari Juwairiyah binti Al-Harits rahiyallahu ‘anha,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، دَخَلَ عَلَيْهَا يَوْمَ الجُمُعَةِ وَهِيَ صَائِمَةٌ، فَقَالَ: «أَصُمْتِ أَمْسِ؟» ، قَالَتْ: لاَ، قَالَ: تُرِيدِينَ أَنْ تَصُومِي غَدًا؟ قَالَتْ: لاَ، قَالَ: فَأَفْطِرِي

“Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menemuinya (Juwairiyah) pada hari Jum’at dan dia sedang berpuasa. Nabi berkata, “Apakah Engkau kemarin berpuasa?” Juwairiyah menjawab, “Tidak.” Nabi bertanya, “Apakah Engkau ingin berpuasa besok?” Juwairiyah menjawab, “Tidak.” Nabi berkata, “Berbukalah.” (HR. Bukhari no. 1986)

Ibnul Qayyim rahimahullahu Ta’ala menjelaskan hikmah dari larangan ini dengan mengatakan,

سد الذريعة من أن يلحق بالدين ما ليس فيه، ويوجب التشبه بأهل الكتاب في تخصيص بعض الأيام بالتجرد عن الأعمال الدنيوية، وينضم إلى هذا المعنى: أن هذا اليوم لما كان ظاهر الفضل على الأيام، كان الداعي إلى صومه قويا، فهو في مظنة تتابع الناس في صومه، واحتفالهم به ما لا يحتفلون بصوم يوم غيره، وفي ذلك إلحاق بالشرع ما ليس منه. ولهذا المعنى – والله أعلم – نهي عن تخصيص ليلة الجمعة بالقيام من بين الليالي، لأنها من أفضل الليالي، حتى فضلها بعضهم على ليلة القدر

“Ini adalah dalam rangka mencegah agar (kaum muslimin) tidak menyandarkan sesuatu dengan agama yang tidak ada asal-usulnya. Hal ini juga menyebabkan tasyabbuh dengan ahli kitab dalam mengkhususkan sebagian hari untuk tidak melakukan aktivitas duniawi apa pun. Selain hikmah yang sudah disebutkan, juga ditambahkan bahwa ketika hari (Jum’at) ini memiliki keutamaan dibandingkan hari-hari yang lain, maka dorongan untuk berpuasa pada hari itu menjadi lebih kuat. Sehingga terdapat persangkaan bahwa manusia ikut-ikutan berpuasa di hari itu dan menjadikannya sebagai perayaan dengan berpuasa yang tidak mereka lakukan di hari lainnya. Dalam perbuatan tersebut, mereka memasukkan (suatu amal) ke dalam agama yang tidak ada asal-usulnya dalam agama tersebut. Karena hikmah tersebut, wallahu a’lam, (syariat) melarang mengkhusukan malam Jum’at dengan shalat malam (yang tidak dilakukan di malam-malam lain) karena malam Jum’at adalah malam yang paling afdhal. Sampai-sampai sebagian di antara mereka lebih mengutamakan malam Jum’at dibandingkan dengan malam lailatul qadar.” (Zaadul Ma’aad, 1: 406-407)

Baca Juga:  Adab Ketika Mendengar Khutbah Jumat

Berdasarkan penjelasan di atas, sebab larangan berpuasa di hari Jum’at adalah semata-mata karena hari itu adalah hari Jum’at. Oleh karena itu, jika hari Jum’at tersebut bertepatan dengan hari ‘Arafah (9 Dzulhijjah); atau seseorang yang terbiasa berpuasa sehari dan berbuka sehari dan bertepatan giliran waktu puasanya dengan hari Jum’at; atau bertepatan dengan puasa tiga hari setiap bulan (tanggal 13, 14 dan 15 dalam kalender hiriyah); atau bertepatan dengan hari ‘Asyura; maka tidak mengapa berpuasa di hari Jum’at saja, karena puasa di hari itu tidak dimaksudkan untuk mengagungkan hari Jum’at secara khusus, dan juga termasuk dalam pengecualian yang disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِلَّا أَنْ يَكُونَ فِي صَوْمٍ يَصُومُهُ أَحَدُكُمْ

“kecuali memang bertepatan dengan hari puasanya.” [1]

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,

صوم يوم الجمعة مكروه، لكن ليس على إطلاقه، فصوم يوم الجمعة مكروه لمن قصده وأفرده بالصوم

“Puasa di hari Jum’at itu makruh, namun tidak secara mutlak. Puasa di hari Jum’at itu makruh bagi orang yang memaksudkan dan mengkhususkannya (karena semata-mata hari Jum’at).” (Majmu’ Fataawa wa Rasail Ibnu ‘Utsaimin, 20: 29)

Baca Juga:

[Bersambung]

***

@Jogjakarta, 11 Rabi’ul akhir 1440/ 19 Desember 2018

Penulis: M. Saifudin Hakim

Artikel: Muslim.Or.Id

Catatan kaki:

[1] Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 2: 142-143.

Sahabat muslim, yuk berdakwah bersama kami. Untuk informasi lebih lanjut silakan klik disini. Jazakallahu khaira

Print Friendly, PDF & Email
Loading...

Check Also

Bacaan Ruqyah dan Doa Ketika Sulit Melahirkan

Meja redaksi dakwah.id mendapat pertanyaan soal bacaan ruqyah dan doa ketika sulit melahirkan. Dalam istilah …

%d bloggers like this: