php hit counter
Home / Semua / Aqidah / Mengapa Engkau Enggan Mengenal Tuhanmu? (Bag. 5)

Mengapa Engkau Enggan Mengenal Tuhanmu? (Bag. 5)

Baca pembahasan sebelumnya Mengapa Engkau Enggan Mengenal Tuhanmu? (Bag. 4)

Allah Ta’ala Telah Memperkenalkan Diri-Nya dalam Banyak Ayat Al-Qur’an

Allah Ta’ala telah memperkenalkan diri-Nya kepada hamba-hamba-Nya dengan memberitahukan nama-nama-Nya yang paling indah dan sifat-sifat-Nya yang paling mulia. Semua itu disebutkan dalam Kitab-Nya dan Sunnah Rasul-Nya. Bahkan kita jumpai, hampir pada setiap ayat Al-Qur’an yang kita baca selalu diakhiri dengan peringatan atau penyebutan salah satu dari nama-nama Allah Ta’ala atau salah satu dari sifat-sifat-Nya. Sebagai contoh,  Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

” … Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. At-Taubah [9]: 5)

Dan juga firman-Nya,

وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

” … Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisaa’ [4]: 17)

Dalam ayat lain Allah Ta’ala berfirman,

وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي أَنْفُسِكُمْ فَاحْذَرُوهُ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ حَلِيمٌ

”Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu. Maka takutlah kepada-Nya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.” (QS. Al-Baqarah [2]: 235)

Hal ini semua disebabkan karena nama-nama yang terbaik dan sifat-sifat yang mulia ini memiliki daya pengaruh dan membekas dalam hati seseorang yang mengetahui-Nya. Sehingga dia selalu merasa diawasi oleh Allah Ta’ala dalam segala aspek kehidupannya. Dengan demikian, rasa malunya kepada Allah pun menjadi sempurna. [1]

Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa penutupan ayat Al Qur’an dengan nama-nama Allah Ta’ala yang husna menunjukkan bahwa hukum yang disebutkan dalam rangkaian ayat tersebut memiliki kaitan dengan nama-Nya yang mulia. Dan ini merupakan suatu kaidah yang sangat bermanfaat. Jika kita memperhatikan dan meneliti semua ayat yang diakhiri dengan penyebutan nama Allah Ta’ala, maka kita akan mendapatkan kesesuaian. Yaitu syariat maupun perintah-Nya semuanya bersumber dari nama dan sifat-Nya serta sangat terkait dengannya. Sehingga jika seorang hamba mengenal Allah Ta’ala melalui nama-namaNya yang mulia, maka dia akan mengetahui pula hukum-hukum yang merupakan konsekuensi dari nama-nama Allah Ta’ala tersebut.

Misalnya adalah firman Allah Ta’ala,

رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Ya Rabb kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Qur’an) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha kuasa lagi Maha bijaksana.(QS. Al-Baqarah [2]: 129)

Penutupan ayat tersebut dengan nama Allah “Al ‘Aziz” dan “Al Hakim” menunjukkan bahwa di dalam pengutusan Rasul tersebut terdapat rahmat Allah yang luas, kesempurnaan kekuasaan dan hikmah Allah Ta’ala. Karena tidak termasuk hikmah-Nya jika membiarkan makhluk-Nya begitu saja, tidak mengutus Rasul kepada hamba-Nya. Maka Allah mewujudkan hikmah-Nya dengan mengutus Rasul sehingga manusia tidak memiliki alasan setelah diutusnya Rasul tersebut. Sedangkan semua perkara tidak akan terjadi kecuali dengan kekuasaan dan hikmah Allah Ta’ala.

Contoh lainnya adalah perkataan Ibrahim dan Isma’il ‘alaihimas salaam ketika keduanya meninggikan dasar baitullah,

وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

”Dan ingatlah ketika Ibrahim dan isma’il meninggikan dasar baitullah, (sambil berkata), ’Wahai Rabb kami terimalah dari kami (amalan kami). Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui.’(QS. Al-Baqarah [2]: 127)

Keduanya ber-tawassul dengan dua nama Allah (yaitu As-Samii’ dan Al-‘Aliim) agar amalnya diterima oleh Allah Ta’ala. Karena Allah Ta’ala mengetahui niatnya, mendengar, dan mengabulkan doanya. Karena yang dimaksudkan dengan As-Samii’ dalam konteks “mendengar doa” bermakna “mengabulkan doa”. Sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam ayat lain,

إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاءِ

”Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha mendengar (mengabulkan) doa.” (QS. Ibrahim [14]: 39)

Ketika Allah Ta’ala selesai menyebutkan tentang hukum waris dan bagian masing-masing ahli waris, Allah Ta’ala berfirman,

فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ  إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا

”Ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha bijaksana.” (QS. An-Nisa’ [4]: 11)

Maka, karena Allah Ta’ala Maha mengetahui dan Maha bijaksana, Allah Ta’ala mengetahui apa yang tidak diketahui oleh hamba-Nya, dan Allah Ta’ala pun meletakkan sesuatu sesuai dengan tempatnya. Oleh karena itu, patuhilah perintah Allah ketika membagi harta waris kepada orang-orang yang berhak mendapatkannya. Karena pembagian itu berdasarkan ilmu Allah Ta’ala dan hikmah-Nya. Seandainya pembagian waris ini diserahkan kepada pemikiran dan ijtihad (logika atau hasil olah pikir) manusia sendiri, maka pembagian itu akan dilandasi dengan kebodohan dan hawa nafsu, serta tidak ada hikmah di dalamnya. Sehingga justru akan menimbulkan bahaya. Oleh karena itu, barangsiapa yang mencela hukum Allah Ta’ala, atau mengatakan,’ Seandainya hukumnya begini atau begitu’, maka dia telah mencela ilmu dan hikmah Allah Ta’ala. Dan sebagaimana Allah menyebutkan ilmu dan hikmah setelah menyebutkan hukum syariat-Nya, Allah Ta’ala juga menyebutkannya dalam ayat-ayat yang berisi tentang ancaman. Hal ini untuk menjelaskan kepada hamba-Nya bahwa syariat dan balasan-Nya berkaitan dengan hikmah-Nya dan tidak keluar dari ilmu-Nya. [2]

Kesimpulan

Tauhid asma’ wa shifat merupakan salah satu komponen keimanan kepada Allah Ta’ala dan merupakan ilmu yang paling pokok dan paling utama. Seorang hamba dituntut untuk mengenal Allah Ta’ala dengan mengetahui nama dan sifat yang telah disebutkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dengan mengenal Allah Ta’ala, akan muncul pengagungan kepada-Nya dalam diri seorang hamba sehingga dia beribadah kepada Allah Ta’ala dengan sempurna. Juga akan muncul rasa takut kepada Allah Ta’ala sehingga mendorongnya untuk menjauhi perbuatan maksiat. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

”Sesungguhnya hanyalah yang takut kepada Allah di antara para hamba-Nya adalah para ulama.” (QS. Fathir [35]: 28)

[Selesai]

***

Disempurnakan di malam hari, Rotterdam NL, 9 Jumadil awwal 1439/27 Januari 2018

Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,

Penulis: Muhammad Saifudin Hakim
Artikel: Muslim.or.id

 

Catatan kaki:

[1]     Lihat Sittu Durar min Ushuuli Ahil Atsar, hal. 34.

[2]     Lihat Al-Qawaa’idul Hisan, hal. 51-57.

Print Friendly, PDF & Email




Source link

Loading...

Check Also

Siapakah Ulil Amri atau Penguasa yang Wajib Ditaati? (Bag. 5)

Baca pembahasan sebelumnya Siapakah Ulil Amri atau Penguasa yang Wajib Ditaati? (Bag. 4) Penguasa yang …

%d bloggers like this: