php hit counter
Home / Semua / Aqidah / Mengapa Engkau Enggan Mengenal Tuhanmu? (Bag. 4)

Mengapa Engkau Enggan Mengenal Tuhanmu? (Bag. 4)

Baca pembahasan sebelumnya Mengapa Engkau Enggan Mengenal Tuhanmu? (Bag. 3)

Buah dari Pengenalan terhadap Nama dan Sifat Allah

Termasuk di antara hal-hal yang menunjukkan pentingnya tauhid asma’ wa shifat adalah hal-hal yang merupakan buah dari pengenalan terhadap nama dan sifat Allah Ta’ala di dalam hati seorang mukmin, yaitu semakin kokohnya keimanan dan keyakinan. Selain itu, semakin bertambah pula cahaya dan bashiroh yang dapat menjaganya dari syubhat yang menyesatkan dan dari syahwat yang diharamkan.

Jika ilmu ini kokoh menancap di dalam hati, pasti akan menghasilkan rasa takut (khosy-yah) kepada Allah Ta’ala. Setiap nama dari nama-nama Allah Ta’ala memiliki pengaruh tertentu dalam hati dan perbuatan. Jika hati mengetahui makna dari nama Allah Ta’ala, apa kandungannya, serta merasakannya, maka dia akan terdorong untuk melakukan hal-hal yang merupakan konsekuensi dari nama-nama Allah Ta’ala tersebut.

Setiap sifat ‘ubudiyyah (penghambaan) tertentu merupakan konsekuensi dan tuntutan dari nama dan sifat Allah Ta’ala. Nama-nama Allah Ta’ala yang husna (indah) dan sifat-Nya yang ‘ulya (tinggi) menimbulkan pengaruh ‘ubudiyyah tertentu. Hal ini mencakup seluruh jenis ‘ubudiyyah yang berasal dari hati maupun amal perbuatan. Misalnya, pengetahuan seorang hamba tentang keesaan Allah Ta’ala dalam mendatangkan bahaya atau manfaat, memberi, mencegah, menciptakan, memberi rizki, menghidupkan, dan mematikan akan menghasilkan sifat ‘ubudiyyah berupa tawakkal kepada-Nya baik secara batin maupun lahir. Dia tidak akan bertawakkal kepada selain Allah Ta’ala, baik kepada para wali, jimat, atau kepada dirinya sendiri.

Pengetahuan seorang hamba terhadap pendengaran Allah Ta’ala, penglihatan-Nya, dan ilmu-Nya, bahwa tidak ada yang samar bagi Allah Ta’ala meskipun seukuran biji sawi, baik di langit maupun di bumi, bahwa Allah Ta’ala mengetahui yang rahasia dan tersembunyi di dalam dada, maka akan menghasilkan sikap menjaga lisan, perbuatan, dan gerak-gerik hatinya dari setiap yang tidak diridhai oleh Allah Ta’ala. Demikian pula dia akan menjadikan anggota tubuhnya untuk mengamalkan apa-apa yang dicintai dan diridhai oleh Allah Ta’ala. Dan menghasilkan pula rasa malu di dalam hati sehingga mendorongnya untuk menjauhi hal-hal yang diharamkan.

Pengetahuan seorang hamba tentang kekayaan, kemurahan, kemuliaan, kebaikan, dan rahmat Allah Ta’ala akan menghasilkan luasnya raja’ (berharap) dari dalam dirinya. Dia tidak akan pernah berputus asa dari rahmat Allah Ta’ala ketika sedang mendapatkan musibah. Demikian pula pengetahuan seorang hamba tentang kebesaran, keagungan, dan keperkasaan Allah Ta’ala akan menghasilkan khudhu’ (ketundukan), perendahan diri, dan kecintaan kepada Allah Ta’ala. Demikianlah, seluruh ‘ubudiyyah kembali kepada konsekuensi dari nama dan sifat Allah Ta’ala serta terkait dengannya. [1]

Dengan demikian jelaslah bahwa pengetahuan seorang hamba terhadap nama dan sifat Allah Ta’ala sesuai dengan apa yang dijelaskan oleh Allah Ta’ala di dalam kitab-Nya dan sunnah Rasul-Nya akan menyebabkan seseorang menghamba (beribadah) kepada Allah Ta’ala dengan sempurna. Sehingga manusia yang paling sempurna penghambaannya kepada Allah Ta’ala adalah manusia yang beribadah kepada-Nya dengan seluruh nama dan sifat Allah Ta’ala yang diketahuinya.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,”Seseorang tidak mungkin beribadah kepada Allah Ta’ala dengan sempurna sampai dia mengetahui nama dan sifat Allah Ta’ala sehingga dia menyembah Allah Ta’ala di atas bashirah.” [2]

Pernyataan beliau rahimahullah tersebut didasarkan atas firman Allah Ta’ala,

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا

”Hanya milik Allah-lah nama-nama yang husna. Maka berdoalah kamu dengannya.” (QS. Al-A’raf [7]: 180)

Berdoa dengan nama Allah Ta’ala mencakup doa permintaan (doa mas’alah) atau ibadah secara umum. Karena semua ibadah yang kita lakukan pada hakikatnya adalah doa.

Berdasarkan ayat tersebut, maka termasuk kesempurnaan dalam berdoa adalah seseorang menjadikan perantaraan (ber-“tawassul”) dalam doanya dengan menyebutkan nama-nama Allah Ta’ala yang sesuai dengan isi permintaannya. Jika kita ingin meminta rizki, maka kita ber-tawassul dengan nama Allah “Ar-Rozzaaq” (Yang Maha pemberi rizki). Jika kita meminta ampun kepada Allah, maka kita ber-tawassul dengan nama Allah “Al Ghofuur” (Yang Maha mengampuni). Inilah salah satu bentuk tawassul dalam berdoa yang disyariatkan. Bahkan inilah yang telah dicontohkan oleh para Rasul ketika mereka berdoa kepada Allah Ta’ala. Nabi Musa ‘alaihis salam berdoa kepada Allah,

فَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الْغَافِرِينَ

”Maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat. Dan Engkaulah Pemberi ampun yang sebaik-baiknya.(QS. Al-A’raf [7]: 155)

Demikian pula Nabi Isa ‘alaihis salam, beliau berdoa kepada Allah,

وَارْزُقْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

”Berilah kami rizki, dan Engkaulah Pemberi rizki yang paling utama.(QS. Al-Maidah [5]: 114)

Sedangkan Nabi Ya’qub ‘alaihis salam, beliau berkata,

قَالَ سَوْفَ أَسْتَغْفِرُ لَكُمْ رَبِّي إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha penyayang.(QS. Yusuf [12]: 98)

Adapun dalam beribadah secara umum, maka hendaknya dibangun di atas ilmu tentang nama-nama Allah Ta’ala yang husna. Jika seseorang mengetahui bahwa Allah Ta’ala adalah Dzat Yang Maha mengampuni, maka dia akan bersegera untuk memohon ampun kepada-Nya. Sedangkan memohon ampun (istighfar) termasuk ibadah. Jika seseorang mengetahui bahwa Allah Ta’ala adalah Dzat Yang Maha mendengar, maka hal itu akan mencegah dirinya sehingga Allah tidak mendengar dari dirinya hal-hal yang dapat menyebabkan kemurkaan-Nya. Dia juga akan berkata-kata dengan sesuatu yang apabila didengarkan oleh Allah Ta’ala, hal itu akan medatangkan ridha-Nya. Dan semua ini termasuk ibadah. [3]

[Bersambung]

***

Disempurnakan di malam hari, Rotterdam NL, 9 Jumadil awwal 1439/27 Januari 2018

Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,

Penulis: Muhammad Saifudin Hakim
Artikel: Muslim.or.id

 

Catatan kaki:

[1]     Lihat Miftaah Daaris Sa’aadah, 2/90.

[2]     Syarh Al-Qowa’idul Mutsla, hal. 20.

[3]     Lihat Syarh Al-Qowa’idul Mutsla, hal. 20-23; Fiqhu Ad-Du’a, hal. 27-29.

Print Friendly, PDF & Email

Loading...

Check Also

Menyoal Konsekuensi Penerjemahan Istiwa` (Bag.1)

Bismillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah,amma ba’du : Syaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah mendefinisikan …

%d bloggers like this: