php hit counter
Home / Semua / Aqidah / Mengapa Engkau Enggan Mengenal Tuhanmu? (Bag.1)

Mengapa Engkau Enggan Mengenal Tuhanmu? (Bag.1)

Beriman kepada Allah Ta’ala merupakan rukun iman yang pertama dan paling penting. Sedangkan rukun iman yang lain “hanyalah” mengikuti dan merupakan cabang dari keimanan kepada Allah Ta’ala. Tauhid merupakan tujuan utama makhluk diciptakan, para rasul diutus, dan kitab-kitab diturunkan. Agama pun dibangun di atas tauhid. Keimanan kepada Allah Ta’ala merupakan pokok semua kebaikan dan sebab kebahagiaan. Dengan keimanan ini manusia memohon petunjuk, untuk-Nya dia beramal, dan kepada-Nya dia akan kembali. Jika hal itu dipalingkan kepada selain Allah Ta’ala, maka akan menjadi awal dan sumber kehancuran dan kerusakan.

Tidak ada kebaikan dan keberuntungan bagi seorang hamba kecuali dengan mengenal Rabb-nya dan beribadah kepada-Nya. Itulah tujuan hidup yang seharusnya dia inginkan dan itu pula tujuan penciptaannya. Oleh karena itulah, dakwah para Rasul kepada umatnya adalah dakwah menuju keimanan kepada Allah Ta’ala dan beribadah kepada-Nya. Setiap Rasul pasti memulai dakwahnya dengan hal tersebut, sebagaimana yang diketahui oleh orang-orang yang mengkaji dakwah para Rasul di dalam Al Qur’an.

Sendi-sendi kebahagiaan dan keselamatan adalah dengan mewujudkan dua macam tauhid. Dengan kedua macam tauhid tersebut, terwujudlah keimanan kepada Allah Ta’ala. Dan untuk mewujudkannya, Allah Ta’ala mengutus Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mendakwahkan tauhid dari awal dakwahnya hingga akhir hayat. [1]

Tauhid Ma’rifat wal Itsbaat

Tauhid pertama adalah tauhid al-‘ilmi al-i’tiqadi. Dinamakan demikian karena maksud dari tauhid ini adalah untuk mengetahui atau mengenal Allah Ta’ala (al-‘ilmu) sehingga seorang hamba memiliki keyakinan (al-i’tiqad) terhadap keagungan dan kebesaran Allah Ta’ala.

Ada pula yang menyebutnya sebagai tauhid ma’rifat wal itsbat. Disebut ma’rifat, karena mengenal Allah Ta’ala (ma’rifatullah) hanyalah dicapai melalui pengetahuan dan pengenalan terhadap nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Disebut al-itsbat (penetapan) karena tauhid ini berarti meyakini dan menetapkan nama-nama dan sifat-sifat Allah sebagaimana yang telah ditetapkan sendiri oleh Allah Ta’ala.

Di dalam tauhid pertama ini terkandung penetapan adanya Rabb Ta’ala, nama, sifat, dan perbuatan-Nya, serta tidak ada satu pun yang serupa dengan-Nya. Tauhid ini juga mencakup penetapan sifat kesempurnaan bagi Allah Ta’ala, mensucikan-Nya dari penyerupaan dan persamaan dengan makhluk-Nya, serta mensucikan-Nya dari berbagai sifat kekurangan.

Sehingga dalam tauhid ma’rifat wal itsbat ini terkandung dua macam tauhid. Pertama, tauhid rububiyyah. Yaitu mentauhidkan Allah dalam perbuatan-perbuatanNya, dengan beriman bahwa Allah-lah satu-satunya Dzat yang menciptakan, memberi rizki, mengatur, dan memelihara para makhluk-Nya di dunia dan di akhirat. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ مَا مِنْ شَفِيعٍ إِلَّا مِنْ بَعْدِ إِذْنِهِ ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ

”Sesungguhnya Rabb kamu ialah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy untuk mengatur segala urusan. Tiada seorang pun yang akan memberi syafa’at kecuali sesudah ada izin-Nya. (Dzat) yang demikian itulah Allah, Rabb kamu, maka sembahlah Dia. Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS. Yunus [10]: 3).

Kedua, tauhid asma’ wa shifat. Yaitu menetapkan nama dan sifat yang telah ditetapkan oleh Allah Ta’ala untuk diri-Nya sendiri atau ditetapkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mensucikan-Nya dari aib dan kekurangan sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Allah Ta’ala sendiri atau oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Tauhid Uluhiyyah atau Tauhid Ibadah

Tauhid kedua adalah tauhid fi’li atau tauhid ‘amali. Dinamakan demikian karena tauhid ini terkait dengan perbuatan hati dan anggota badan. Disebut juga tauhid al-iradi ath-thalabi, karena tauhid ini bermaksud untuk menujukan semua bentuk ibadah hanya kepada Allah Ta’ala, mencari ridha-Nya, dan ikhlas semata-mata karena-Nya.

Tauhid jenis ini lebih dikenal dengan istilah tauhid uluhiyyah atau tauhid ibadah, karena kandungannya adalah mentauhidkan Allah Ta’ala dalam setiap perbuatan (ibadah) seorang hamba, dengan tidak menjadikan sekutu atau tandingan bagi Allah Ta’ala.

Dalam tauhid jenis kedua ini terkandung pengertian bahwa segala jenis ibadah hanyalah untuk Allah Ta’ala saja, dia beriman bahwa Allah-lah satu-satunya Dzat yang berhak atas berbagai jenis ibadah, dan peribadatan kepada selain Allah Ta’ala adalah peribadatan yang batil. Dengan tauhid ini seseorang akan memurnikan rasa cinta (mahabbah) kepada-Nya, dia juga takut (khauf), berharap (raja’), dan bertawakkal hanya kepada-Nya. [2]

Allah Ta’ala telah menggabungkan kedua macam tauhid tersebut di dalam surat Al-Ikhlas dan surat Al-Kafirun. Dalam firman Allah Ta’ala,

قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ

”Katakanlah,’Wahai orang-orang kafir!  Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah’”  (QS. Al-Kafirun [109]: 1-2).

terkandung kewajiban beribadah kepada Allah Ta’ala semata, tidak ada sekutu bagi-Nya dan berlepas diri dari segala jenis peribadatan kepada selain-Nya.

Sedangkan dalam firman Allah Ta’ala,

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ

”Katakanlah,’Dia-lah Allah, Yang Maha Esa.’” (QS. Al-Ikhlas [112]: 1).

terkandung kewajiban menetapkan sifat kesempurnaan bagi Allah Ta’ala dan mensucikan-Nya dari berbagai sifat aib dan cela.  Sehingga, di dalam surat Al-Ikhlas terdapat penjelasan tentang apa yang wajib bagi Allah Ta’ala berupa penetapan sifat-sifat kesempurnaan dan penyucian Allah Ta’ala dari aib dan kekurangan. Sedangkan di dalam surat Al-Kafirun terkandung kewajiban beribadah kepada-Nya semata, tidak beribadah kepada selain-Nya, serta berlepas diri dari setiap peribadatan kepada selain-Nya.

Allah Ta’ala juga telah menggabungkan kedua macam tauhid tersebut di berbagai ayat Al Qur’an. Di antaranya adalah firman Allah Ta’ala,

اللَّهُ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ لِتَسْكُنُوا فِيهِ وَالنَّهَارَ مُبْصِرًا إِنَّ اللَّهَ لَذُو فَضْلٍ عَلَى النَّاسِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَشْكُرُونَ (61) ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ فَأَنَّى تُؤْفَكُونَ (62)  كَذَلِكَ يُؤْفَكُ الَّذِينَ كَانُوا بِآيَاتِ اللَّهِ يَجْحَدُونَ (63) اللَّهُ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ قَرَارًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَصَوَّرَكُمْ فَأَحْسَنَ صُوَرَكُمْ وَرَزَقَكُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ فَتَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ (64) هُوَ الْحَيُّ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ فَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (65)

”Allah-lah yang menjadikan malam untuk kamu supaya kamu beristirahat dan menjadikan siang terang benderang. Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyal karunia yang dilimpahkan atas manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur. Yang demikian itu adalah Allah, Tuhanmu, Pencipta segala sesuatu, tiada sesembahan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Maka bagaimanakah kamu dapat dipalingkan? Seperti demikianlah dipalingkan orang-orang yang selalu mengingkari ayat-ayat Allah.  Allah-lah yang menjadikan bumi tempat menetap bagimu dan langit sebagai atap, dan membentuk kamu lalu membaguskan rupamu serta memberi kamu rizki yang baik-baik. Yang demikian itu adalah Allah, Tuhanmu. Maha Agung Allah, Rabb semesta alam.  Dialah yang hidup kekal, tiada sesembahan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Maka sembahlah dia dengan memurnikan ibadah kepada-Nya. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam” (QS. Al-Mu’min [40]: 61-65).

Salah satu dari dua tauhid tersebut tidaklah sempurna kecuali dengan menyempurnakan tauhid yang lainnya. Oleh karena itulah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca kedua surat ini -yaitu surat Al-Ikhlas dan Al-Kafirun- dalam shalat qabliyah subuh, shalat ba’diyah maghrib, dan shalat witir [3]. Dengan kedua surat tersebut, beliau memulai dan menutup amal perbuatannya sehari-hari. Sehingga hari-hari beliau dibuka dengan tauhid, dan ditutup pula dengan tauhid. [4]

[Bersambung]

***

Disempurnakan di malam hari, Rotterdam NL, 2 Jumadil awwal 1439/20 Januari 2018

Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,

Penulis: Muhammad Saifudin Hakim
Artikel: Muslim.or.id

 

Catatan kaki:

[1]     Lihat Mu’taqod Ahlus Sunnah wal Jama’ah, hal. 9.

[2]     Lihat Ijtima’ Al-Juyuusy Al-Islamiyyah, hal. 37; Syarh Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyah, 1/125-129; Syarh Al-Qashidah An-Nuniyyah, 2/54-55; Mu’taqod Ahlus Sunnah wal Jama’ah, hal. 31-50.

[3]    Lihat Shifatush Shalat hal. 189-190, karya Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah.

[4]     Lihat Ijtimaa’ Al-Juyuusy Al-Islamiyyah, hal. 37-38.

Print Friendly, PDF & Email

Loading...

Check Also

Rububiyyah dan ‘Ubudiyyah yang Bersifat Umum dan Khusus (Bag. 2)

Baca pembahasan sebelumnya Rububiyyah dan ‘Ubudiyyah yang Bersifat Umum dan Khusus (Bag. 1) ‘Ubudiyyah (penghambaan) …

%d bloggers like this: