php hit counter
Home / Sejarah / Masjidil Aqsha, Inikah Keutamaanmu yang Sangat Luar Biasa Itu?

Masjidil Aqsha, Inikah Keutamaanmu yang Sangat Luar Biasa Itu?

Masjidil Aqsha secara harfiah diartikan sebagai ‘masjid terjauh’. Masjidil Aqsha disebut juga dengan Baitul Maqdis atau al-Ḥaram asy-Syarīf, atau al-Ḥaram al-Qudsī asy-Syarīf, Tanah suci yang mulia. Dalam perkembangannya, Masjdil Aqsha adalah nama untuk sebuah kompleks al-haram asy-Syarif di Palestina yang saat ini di dalamnya terdiri dari beberapa masjid kecil.

Masjidil Aqsha  atau Baitul Maqdis memiliki keutamaan yang sangat luar biasa dan keberkahan yang begitu banyak. Keterangan tentang itu bisa kita jumpai dalam al-Quran dan as-Sunnah.

 

Satu: Masjidil Aqsha adalah kiblat pertama umat Islam

Hampir selama enam atau tujuh belas bulan Masjidil Aqsha menjadi kiblat umat Islam, setelah itu Allah ‘Azza wa Jalla merubah kiblat umat Islam ke arah Ka’bah Baitullah al-Haram.

Diriwayatkan dari Al-Barra’ bin ‘Azib, ia berkata,

صَلَّيْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَحْوَ بَيْتِ الْمَقْدِسِ سِتَّةَ عَشَرَ شَهْرًا أَوْ سَبْعَةَ عَشَرَ شَهْرًا ثُمَّ صُرِفْنَا نَحْوَ الْكَعْبَةِ

“Kami shalat bersama Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam menghadap Baitul Maqdis enam belas bulan atau tujuh belas bulan, kemudian kami dipalingkan menghadap Ka’bah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

 

Dua: Masjidil Aqsha adalah masjid kedua yang pertama ada di Bumi

Masjidil Aqsha adalah Masjid Kedua yang ada di bumi setelah Masjidil Haram. Dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu beliau berkata,

قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ مَسْجِدٍ وُضِعَ أَوَّلَ قَالَ الْمَسْجِدُ الْحَرَامُ قُلْتُ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ ثُمَّ الْمَسْجِدُ الْأَقْصَى قُلْتُ كَمْ كَانَ بَيْنَهُمَا قَالَ أَرْبَعُونَ ثُمَّ أَيْنَمَا أَدْرَكَتْكَ الصَّلَاةُ بَعْدُ فَصَلِّهِ فَإِنَّ الْفَضْلَ فِيْهِ وَفِيْ رِوَايَةٍ أَيْنَمَا أَدْرَكَتْكَ الصَّلَاةُ فَصَلِّ فَهُوَ مَسْجِدٌ

“Aku bertanya, ‘Wahai, Rasulullah, masjid manakah yang pertama kali dibangun?’ Beliau menjawab, ‘Masjidil Haram’.

Aku bertanya lagi, ‘Kemudian (masjid) mana?’

Beliau menjawab, ‘Kemudian Masjidil Aqsha’.

Aku bertanya lagi, ‘Berapa jarak antara keduanya?’

Beliau menjawab, ‘Empat puluh tahun. Kemudian dimanapun shalat menjumpaimu setelah itu, maka shalatlah (di sana), karena keutamaan ada padanya’.

Dan dalam riwayat lainnya, ‘Di manapun (waktu) shalat mendatangimu, maka shalatlah (di sana), karena ia adalah masjid.’ (HR Al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Dzar)

 

Tiga: Masjidil Aqsha diberkahi di dalam dan sekitarnya

Seluruh ulama sepakat bahwa Masjidil Aqsha  adalah salah satu tempat yang sangat diberkahi. Masjidil Aqsha  adalah masjid yang jaminan keberkahannya pasti. Allah berfirman,

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلاً مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha  yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Isra’: 1)

Dalam ayat tersebut, Allah menggunakan kalimat menarik yang membuat para pembacanya untuk terus berpikir. Seandainya saja untuk Baitul Maqdis atau Masjidil Aqsha  tidak ada keutamaan selain dari ayat ini, ini sudah sangat cukup untuk menunjukkan keberkahan yang ada di dalamnya. Sebab, jika sekelilingnya saja diberkahi, tentu berkah yang ada di tengahnya berlipat lebih banyak. (Ittihaf al-Ahsha bi Fadhli al-Masjid al-Aqsha, Syamsuddin as-Suyuti, 95)

 

Empat: Masjidil Aqsha adalah tempat Isra’ Nabi

Masjidil Aqsha  adalah masjid kedua tempat berisra’ rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu ia berkata, bahwa rasulullah bersabda,

أُتِيتُ بِالْبُرَاقِ وَهُوَ دَابَّةٌ أَبْيَضُ طَوِيلٌ فَوْقَ الْحِمَارِ وَدُونَ الْبَغْلِ يَضَعُ حَافِرَهُ عِنْدَ مُنْتَهَى طَرْفِهِ قَالَ فَرَكِبْتُهُ حَتَّى أَتَيْتُ بَيْتَ الْمَقْدِسِ قَالَ فَرَبَطْتُهُ بِالْحَلْقَةِ الَّتِي يَرْبِطُ بِهِ الْأَنْبِيَاءُ قَالَ ثُمَّ دَخَلْتُ الْمَسْجِدَ فَصَلَّيْتُ فِيهِ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ خَرَجْتُ

“Aku telah didatangi Buraq. Yaitu seekor binatang yang berwarna putih, lebih besar dari keledai tetapi lebih kecil dari bighal. Ia merendahkan tubuhnya sehingga perut buraq tersebut mencapai ujungnya.”

Beliau bersabda lagi: “Maka aku segera menungganginya sehingga sampai ke Baitul Maqdis.”

Beliau bersabda lagi: “Kemudian aku mengikatnya pada tiang masjid sebagaimana yang biasa dilakukan oleh para Nabi. Sejurus kemudian aku masuk ke dalam masjid dan mendirikan shalat sebanyak dua rakaat. Setelah selesai aku terus keluar.” (HR. Muslim No. 234)

 

Lima: Masjidil Aqsha doa dan Harapan Nabi Musa

Salah satu sikap pengagungan nabi Musa terhadap tanah Suci Masjidil Aqsha  adalah dengan berdoa kepada Allah agar didekatkan dengan Masjidil Aqsha  saat kematiannya.

فسأل الله أن يدنيه من الأرض المقدسة رمية بحجر ، فقال رسول الله – صلى الله عليه وسلم- فلو كنت ثَمَّ لأريتكم قبره إلى جانب الطريق، تحت الكثيب الأحمر

“Musa memohon agar ia didekatkan dengan tanah suci (Bait al-Maqdis) sedekat lemparan batu.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Jika aku berada di sana, tentu akan aku tunjukkan kuburannya di sebuah tepian jalan di bawah gundukan tanah merah.’” (HR. Al-Bukhari No. 1339)

 

Enam: Masjidil Aqsha dan janji kemenangan

Abu Idris berkata, aku mendengar Auf bin Malik berkata,

أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي غَزْوَةِ تَبُوكَ وَهُوَ فِي قُبَّةٍ مِنْ أَدَمٍ فَقَالَ اعْدُدْ سِتًّا بَيْنَ يَدَيْ السَّاعَةِ مَوْتِي ثُمَّ فَتْحُ بَيْتِ الْمَقْدِسِ ثُمَّ مُوْتَانٌ يَأْخُذُ فِيكُمْ كَقُعَاصِ الْغَنَمِ ثُمَّ اسْتِفَاضَةُ الْمَالِ حَتَّى يُعْطَى الرَّجُلُ مِائَةَ دِينَارٍ فَيَظَلُّ سَاخِطًا ثُمَّ فِتْنَةٌ لَا يَبْقَى بَيْتٌ مِنْ الْعَرَبِ إِلَّا دَخَلَتْهُ ثُمَّ هُدْنَةٌ تَكُونُ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَ بَنِي الْأَصْفَرِ فَيَغْدِرُونَ فَيَأْتُونَكُمْ تَحْتَ ثَمَانِينَ غَايَةً تَحْتَ كُلِّ غَايَةٍ اثْنَا عَشَرَ أَلْفًا

Aku menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika terjadi perang Tabuk saat beliau sedang berada di tenda terbuat dari kulit yang disamak. Beliau bersabda,

“Hitunglah enam perkara yang akan timbul menjelang hari Kiamat. Kematianku, dibebaskannya Baitul Maqdis, kematian yang menyerang kalian bagaikan penyakit yang menyerang kambing sehingga mati seketika, melimpahnya harta hingga ada seseorang yang diberi seratus dinar namun masih marah (merasa kurang), timbulnya fitnah sehingga tidak ada satu pun rumah orang Arab melainkan akan dimasukinya, dan perjanjian antara kalian dengan bangsa Bani Al-Ashfar (Eropa) lalu mereka mengkhianati perjanjian kemudian mereka mengepung kalian di bawah delapan bendera (panji-panji) perang yang pada setiap bendera terdiri dari dua belas ribu personil.” (HR. Al-Bukhari No. 2940)

 

Tujuh: Anjuran menziarahi Masjidil Aqsha

Para ulama sepakat atas dianjurkannya mengadakan perjalanan/safar dalam rangka menziarahi Masjidil Aqsha dan shalat di dalamnya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ مَسْجِدِي هَذَا وَمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَمَسْجِدِ الْأَقْصَى

“Janganlah kalian bersusah payah melakukan perjalanan jauh, kecuali ke tiga Masjid; Masjidku ini (Masjid Madinah), Masjidil Haram (di Makkah) dan Masjidil Aqsha . (HR. Muslim No. 2475)

 

Delapan: Shalat di Masjidil Aqsha Pahalanya berlipat

Selain berdasarkan waktu, Allah juga melipatkgandakan pahala sebuah ibadah berdasarkan tempat ibadahnya. Allah melipatgandakan ibadah shalat yang dilaksanakan di Masjidil Aqsha —setelah Masjidil Haram— dibanding ibadah shalat yang dilaksanakan di masjid lain.

Dari Abu Dzar Radhiyallahu anhu ia berkata, Ketika kami berada di majelis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ada yang bertanya: Mana yang lebih utama Masjid Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam atau Baitul Maqdis?, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

صلاة في مسجدي أفضل من أربع صلوات فيه ولنعم المصلى هو، وليوشكن أن يكون للرجل مِثْل شطن فرسه من الأرض حيث يَرى منه بيت المقدس; خير له من الدنيا  جميعاً

“Mendirikan shalat di masjidku lebih baik dari empat kali shalat di dalamnya, dan alangkah baiknya orang yang shalat tersebut. Hampir saja seseorang mendapatkan tanah seperti panjangnya tali kekang kudanya dengan melihat Baitul Maqdis: Lebih baik baginya dari pada dunia semuanya”. (HR. Al-Hakim, 4/509, dishahihkan dan disetujui oleh Adz-Dzahabi dan al-Albani dalam As-Silsilah ash-Shahihah No. 2902)

 

Sembilan: Kutamaan Shalat di Masjidil Aqsha

Dari Abdullah bin Amru, dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda,

لَمَّا فَرَغَ سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ مِنْ بِنَاءِ بَيْتِ الْمَقْدِسِ سَأَلَ اللَّهَ ثَلَاثًا حُكْمًا يُصَادِفُ حُكْمَهُ وَمُلْكًا لَا يَنْبَغِي لَأَحَدٍ مِنْ بَعْدِهِ وَأَلَّا يَأْتِيَ هَذَا الْمَسْجِدَ أَحَدٌ لَا يُرِيدُ إِلَّا الصَّلَاةَ فِيهِ إِلَّا خَرَجَ مِنْ ذُنُوبِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَّا اثْنَتَانِ فَقَدْ أُعْطِيَهُمَا وَأَرْجُو أَنْ يَكُونَ قَدْ أُعْطِيَ الثَّالِثَةَ

“Ketika Sulaiman bin Daud selesai membangun Baitul Maqdis ia meminta Allah tiga hal; hukum yang sesuai dengan hukum-Nya, kerajaan yang tidak dimiliki oleh orang-orang setelahnya, dan tidak ada seorang pun yang mendatangi masjid ini kecuali untuk shalat, melainkan akan keluar semua dosanya sebagaimana bayi yang dilahirkan ibunya. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Dua perkara pertama telah dikabulkan, dan aku berharap yang ketiga juga telah diberikan.’” (HR. Ibnu Majah No. 1398)

 

Sepuluh: Masjidil Aqsha adalah lokasi Mahsyar

Masjidil Aqsha  atau Baitul Maqdis merupakan bagian dari lokasi mahsyar. Mahsyar adalah tempat dikumpulkannya seluruh manusia untuk proses hisab setelah terjadinya kiamat. Dari Maimunah binti Saad pembantu rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata,

يَا نَبِيَ الله أَفْتِنَا فِي بَيْتِ الْمَقْدِسِ. فَقَالَ: أَرْضُ الْمَحْشَرِ وَالْمَنْشَرِ

“Wahai Nabi Allah, berikan aku fatwa tentang Baitul Maqdis.”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “(Baitul Maqdis) Adalah tempat Mahsyar (tempat berkumpulnya manusia untuk dihisab) dan Mansyar (tempat dibangkitkannya manusia setelah kematian).” (Fadha-ilusy Syam, Ar-Rab’i, Dishahihkan oleh al-Albani)

 

Sebelas: Masjidil Aqsha masuk wilayah Syam. Syam adalah tempat tegaknya Khilafah Islamiyah

Dalam sebuah hadits Abdullah bin Hawalah al-Azdi yang cukup panjang disebutkan, Rasulullah menyeru kepada Ibnu Abdullah bin Hawalah tentang tanda-tanda akhir zaman, beliau bersabda,

يَا ابْنَ حَوَالَةَ إِذَا رَأَيْتَ الْخِلَافَةَ قَدْ نَزَلَتْ الْأَرْضَ الْمُقَدَّسَةَ فَقَدْ دَنَتْ الزَّلَازِلُ وَالْبَلَايَا وَالْأُمُورُ الْعِظَامُ وَالسَّاعَةُ يَوْمَئِذٍ أَقْرَبُ إِلَى النَّاسِ مِنْ يَدَيَّ هَذِهِ مِنْ رَأْسِكَ

“Hai Ibnu Hawalah! Bila kau melihat khilafah turun ditanah suci maka telah dekatlah gempa bumi-gempa bumi, bencana, dan hal-hal besar, dan kiamat saat itu lebih dekat pada manusia melebihi tanganku ini dari kepalamu.” (HR. Ahmad No. 21449)

Selain keutamaan-keutamaan di atas, masih banyak lagi keutamaan dan keistimewaan Masjidil Aqsha /Baitul Maqdis, dan keistimewaan serta keutamaan bumi Syam secara keseluruhan. Uraian tentang itu bisa dibaca dalam berbagai tulisan para ulama salaf maupun kontemporer tentang Masjidil Aqsha  dan bumi Syam. Wallahu a’lam. (Shodiq/dakwah.id)

Loading...

Check Also

Pembaruan Ajaran Agama di Era Jahiliyah

Bentuk pembaruan ajaran agama dalam Islam saat ini, atau populer dengan istilah bid’ah, memiliki hubungan erat dengan …

%d bloggers like this: