php hit counter
Home / Fiqh dan Muamalah / Kenapa Jumlah Rakaat Shalat Wajib Tidak Semua Sama?

Kenapa Jumlah Rakaat Shalat Wajib Tidak Semua Sama?

Ketika orang tua mengajarkan pengetahuan tentang shalat kepada anak-anaknya, ia akan merasa mudah menjelaskan jumlah rakaat shalat Subuh itu dua rakaat, Zuhur empat rakaat, Ashar empat rakaat, Maghrib tiga rakaat, Isya empat rakaat.

Namun ketika sikap penasaran anak mulai muncul, kemudian ia mengajukan pertanyaan, “Kenapa jumlah rakaat shalat Subuh itu hanya dua, kan shalat Zuhur itu empat rakaat?” mungkin pertanyaan itu akan membuat setiap orang tua agak kebingungan untuk menjelaskan.

Oke, barangkali orang tua dapat menjawabnya dengan, “Itu contoh dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, anakku. Cara shalat itu harus mencontoh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Namun, jika yang dimaui anak adalah jawaban yang lebih masuk akal dari itu, belum tentu setiap orang tua mampu menjelaskannya. Inilah pentingnya bagi orang tua untuk mengetahui hikmah di balik setiap syariat yang ada dalam Islam. Sehingga, orang tua tidak memberikan jawaban kepada anak dengan jawaban yang asal-asalan, apalagi jawaban dusta.

Terkait jumlah rakaat shalat lima waktu yang tidak semua sama ini sekilas memang seperti urusan yang barangkali dianggap tidak begitu penting, sehingga kurang begitu diperhatikan. Namun sebenarnya ini sangat penting untuk diketahui. Sebab, dalam setiap syariat yang diturunkan Allah ‘azza wajalla, mengandung hikmah yang begitu menarik untuk direnungi.

Pengetahuan terhadap hikmah-hikmah yang terkandung dalam setiap syariat Islam inilah yang akan menggerakkan sisi fitrah manusia untuk tunduk dan taat terhadap perintah dan larangan dalam syariat.

 

Pada Awal Perintah, Jumlah Rakaat Shalat Hanya Dua Rakaat

Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid fakkallahu asrah  menerangkan, Allah ‘azza wajalla mewajibkan hamba—Nya untuk menegakkan shalat lima waktu baik pagi maupun petang dengan ketentuan jumlah dan waktu sesuai kehendak, ilmu, dan hikmah-Nya.

Sementara yang wajib dilakukan oleh hamba Allah ‘azza wajalla adalah pasrah menerima, tunduk, dan taat. Sebagaimana sikap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Sami’na wa atha’na, kami mendengar dan kami taat.

Pada mulanya, perintah shalat yang diturunkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam itu berjumlah dua rakaat, dua rakaat. Lalu kemudian dua rakaat itu ditetapkan sebagai aturan untuk shalat dalam kondisi safar.

Tentang hukum shalat Qashar dapat Anda baca di artikel yang berjudul Nalar Fikih Hukum Qashar Shalat Fardhu Seorang Muslim Saat Safar.

Sedangkan shalat dalam kondisi menetap, jumlahnya ditambah dua rakaat, sehingga menjadi empat rakaat, kecuali shalat Subuh, shalat Maghrib, dan shalat Jumat.

Dasarnya adalah hadits berikut ini.

عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ قَالَتْ فَرَضَ اللَّهُ الصَّلَاةَ حِينَ فَرَضَهَا رَكْعَتَيْنِ رَكْعَتَيْنِ فِي الْحَضَرِ وَالسَّفَرِ فَأُقِرَّتْ صَلَاةُ السَّفَرِ وَزِيدَ فِي صَلَاةِ الْحَضَرِ

Dari ‘Aisyah Ibu kaum Mukminin, ia berkata, “Allah telah mewajibkan shalat, dan awal diwajibkannya adalah dua rakaat dua rakaat, baik saat mukim atau saat dalam perjalanan. Kemudian ditetapkanlah ketentuan tersebut untuk shalat safar (dalam perjalanan), dan ditambahkan lagi untuk shalat di saat mukim.” (HR. Al-Bukhari No. 337) 

Terkait hadits tersebut Ibnu Rajab rahimahullah menjelaskan, “Yang dimaksud oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha adalah Allah ‘azza wajalla mewajibkan ibadah shalat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada malam Isra’. Kemudian ketika turun ke bumi, Malaikat Jibril ikut shalat bersama beliau di Baitul Maqdis.”

Beliau melanjutkan, “Shalat yang dikerjakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah dua rakaat, dua rakaat, dalam kondisi menetap dan kondisi safar. Kemudian ditetapkanlah shalat safar dengan cara tersebut (dua rakaat, dua rakaat), dan untuk shalat ketika kondisi menetap ditambah dua rakaat, sua rakaat. Maksudnya, khusus untuk shalat ruba’iyah (shalat dengan jumlah rakaatnya empat).” (Fathul Bari, Ibnu Rajab, 2/327)

Dalam riwayat lain disebutkan,

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: فَرْضُ صَلَاةِ السَّفَرِ وَالْحَضَرِ رَكْعَتَيْنِ رَكْعَتَيْنِ، فَلَمَّا أَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْمَدِينَةِ: زِيدَ فِي صَلَاةِ الْحَضَرِ رَكْعَتَانِ رَكْعَتَانِ ، وَتُرِكَتْ صَلَاةُ الْفَجْرِ لِطُولِ الْقِرَاءَةِ، وَصَلَاةُ الْمَغْرِبِ لِأَنَّهَا وِتْرُ النَّهَارِ

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha ia berkata, “Wajibnya shalat dalam kondisi safar dan shalat dalam kondisi menetap adalah dua rakaat, dua rakaat. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tinggal di Madinah, ditambahkan dua rakaat, dua rakaat pada shalat dalam kondisi menetap. Dan ditinggalkan (tidak ditambahkan) pada shalat fajar (shalat Subuh) karena bacaannya yang sangat panjang, dan pada shalat Maghrib sebab shalat tersebut adalah penutup waktu siang.” (HR. Ibnu Hibban No. 2738; HR. Ibnu Khuzaimah No. 305. Dinilai hasan oleh Syaikh Syu’aib al-Arnauth dalam Ta’liq ala Shahih Ibni Hibban)

Dalam riwayat lain disebutkan,

كَانَ أَوَّلَ مَا افْتُرِضَ عَلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصَّلَاةُ: رَكْعَتَانِ رَكْعَتَانِ، إِلَّا الْمَغْرِبَ، فَإِنَّهَا كَانَتْ ثَلَاثًا، ثُمَّ أَتَمَّ اللهُ الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ وَالْعِشَاءَ الْآخِرَةَ أَرْبَعًا فِي الْحَضَرِ، وَأَقَرَّ الصَّلَاةَ عَلَى فَرْضِهَا الْأَوَّلِ فِي السَّفَرِ

“Perintah yang pertama kali diwajibkan atas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah shalat; dua rakaat, dua rakaat, kecuali shalat Maghrib yang jumlahnya tiga rakaat. Kemudian Allah ‘azza wajalla menyempurnakan perintah ini untuk shalat Zuhur, Ashar, dan Isya sebanyak empat rakaat dalam kondisi menetap. Dan menetapkan jumlah rakaat sebagaimana pertama kali diperintahkan (dua rakaat, dua rakaat) hanya untuk shalat dalam kondisi safar. (HR. Ahmad No. 26338. Hadits ini sanadnya hasan)

Setelah menyimak beberapa hadits di atas, tampak bahwa perintah wajibnya shalat pada mulanya dengan format pelaksanaan dua rakaat, dua rakaat. Kemudian jumlah rakaat tersebut ditetapkan sebagai format pelaksanaan shalat dalam kondisi safar.

Kemudian untuk shalat dalam kondisi menetap ada penambahan dua rakaat pada shalat Zuhur, Ashar, dan Isya.

 

Kenapa Jumlah Rakaat Shalat Subuh Tidak Empat Rakaat?

Kemudian pada shalat fajar (shalat Subuh) ditetapkan jumlah rakaatnya dua karena panjangnya bacaan surat saat pelaksanaannya di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya memanjangkan bacaan surat dalam shalat Subuh dengan panjang yang tidak pernah beliau praktikkan pada shalat-shalat lain.

Terkadang beliau membaca surat Shafat (HR. Ahmad No. 4989), terkadang membaca surat Rum (HR. Ahmad No. 15873), dan terkadang membaca 60 sampai 100 ayat (Muttafaq ‘alaih).

Karena panjangnya surat yang dibaca pada shalat Fajar (shalat Subuh), maka ditetapkanlah format pelaksanaan shalat Subuh itu dengan dua rakaat sebagaimana jumlah rakaat shalat pada awal permulaan perintah.

Syaikh Ibnu Taimiyah rahimahullah juga pernah menjelaskan, ketika Allah ‘azza wajalla mewajibkan shalat lima waktu saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masih di Mekkah, pelaksanaannya dua rakaat, dua rakaat. Kemudian jumlah dua rakaat itu ditetapkan hanya untuk shalat dalam kondisi safar.

Sementara untuk shalat dalam kondisi menetap, sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih yang diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Ketika hijrah ke Madinah, ada penambahana rakaat pada shalat dalam kondisi menetap. Shalat Maghrib menjadi tiga rakaat, karena itu adalah penutup waktu siang. Shalat fajar (shalat Subuh)  tetap berjumlah dua rakaat karena panjangnya bacaan dalam pelaksanaannya sehingga tak perlu memperbanyak rakaat. (Majmu’ al-Fatawa, 23/114)

 

Kenapa Jumlah Rakaat Shalat Jumat Hanya Dua Rakaat?

Demikian pula, perintah shalat Jumat yang hanya dua rakaat karena ada khutbah di dalamnya. Dalam sebuah hadits disebutkan,

عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ، رِضْوَانُ اللَّهِ عَلَيْهَا قَالَتِ : ” افْتَرَضَ اللَّهُ تَعَالَى الصَّلَاةَ عَلَى نَبِيِّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَكَّةَ رَكْعَتَيْنِ رَكْعَتَيْنِ ، إِلَّا صَلَاةَ الْمَغْرِبِ فَإِنَّهَا وِتْرُ النَّهَارِ، فَلَمَّا هَاجَرَ إِلَى الْمَدِينَةِ اتَّخَذَهَا دَارَ هِجْرَةٍ ، وَأَقَامَ بِهَا زَادَ إِلَى كُلِّ رَكْعَتَيْنِ رَكْعَتَيْنِ إِلَّا صَلَاةَ الْمَغْرِبِ فَإِنَّهَا وِتْرُ النَّهَارِ، وَإِلَّا صَلَاةَ الْغَدَاةِ يُطِيلُ فِيهَا الْقِرَاءَةَ ، وَإِلَّا الْخُطْبَةَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ ، وَصَلَاتَهَا رَكْعَتَيْنِ مِنْ أَجْلِ الْخُطْبَةِ

Dari Aisyah ummul mukminin radhiyallahu ‘anha ia berkata, “Allah ‘azza wajalla mewajibkan ibadah shalat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dua rakaat, dua rakaat ketika beliau berada di Mekkah, kecuali shalat Maghrib karena itu adalah penutup waktu siang. Kemudian ketika beliau pindah ke Madinah, beliau menjadikannya sebagai tempat hijrah. Beliau menetap di sana. Lalu pada setiap dua rakaat shalat ditambah lagi dua rakaat kecuali shalat Maghrib karena itu adalah penutup waktu siang, dan kecuali shalat Subuh karena di dalamnya bacaan shalat dipanjangkan, dan kecuali khutbah pada hari Jumat; shalatnya tetap dua rakaat karena ada khutbah.” (HR. Ibnu al-A’rabi No. 1490 dalam kitab Mu’jam Ibnul A’rabi, 2/734)

Ibnu Qudamah rahimahullah berkata,

عَنْ عُمَرَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – أَنَّهُ قَالَ: قَصُرَتْ الصَّلَاةُ لِأَجْلِ الْخُطْبَةِ، وَقَوْلُ عَائِشَةَ نَحْوٌ مِنْ هَذَا، وَقَالَ سَعِيدُ بْنُ جُبَيْرٍ: كَانَتْ الْجُمُعَةُ أَرْبَعًا فَجُعِلَتْ الْخُطْبَةُ مَكَانَ الرَّكْعَتَيْنِ

Dari Umar radhiyallahu anhu, ia berkata, “Shalat (Jumat) dipendekkan karena terdapat khutbah. Ada perkataan Aisyah radhiyallahu ‘anha tentang ini.” Said bin Jubair berkata, Pada mulanya, shalat Jumat itu empat rakaat. Kemudian adanya khutbah menggantikan posisi dua rakaatnya.” (Al-Mughni, Ibnu Qudamah, 2/224)

Baca juga: Membaca al-Kahfi Pada Malam Jumat atau Hari Jumat?

Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah pernah mendapat pertanyaan tentang hikmah kenapa jumlah rakaat shalat Jumat hanya dua rakaat. Jawaban beliau tercatat dalam kitabnya Majmu’ Fatawa wa Rasail asy-Syaikh Muhammad Shalih al-‘Utsaimin jilid 16 bab Shalat Jumat.

Beliau menjelaskan bahwa hikmah dari dipendekkannya jumlah rakaat shalat Jumat adalah untuk memudahkan jamaah shalat. Di antara jamaah shalat ada yang datang ke masjid di awal waktu, kemudian ditambah harus mendengarkan dua khutbah yang cukup panjang. Jika shalat Jumat berjumlah empat rakaat, maka tentu jamaah butuh waktu yang cukup panjang.

Hikmah kedua, pemendekan jumlah rakaat tersebut sebagai pembeda antara shalat Jumat dengan shalat Zuhur.

Hikmah ketiga, hari Jumat adalah hari raya pekanan (‘Idul Usbu’) bagi umat Islam. Dipendekkannya jumlah rakaat shalat Jumat hikmahnya adalah agar seperti shalat ‘Id pada umumnya.

Hikmah keempat, adanya dua khutbah dalam shalat Jumat berfungsi sebagai pengganti dari dua rakaat shalat. Sehingga antara pengganti dan yang diganti tidak bisa disatukan. Wallahu a’lam. [Sodiq Fajar/dakwah.id]

Loading...

Check Also

Fikih Siyasah: Formulasi Penyatuan Islam dan Negara

Fikih Siyasah: Formulasi Penyatuan Islam dan Negara — “Islam Yes, partai Islam No”, sebuah slogan yang sempat …

%d bloggers like this: