php hit counter
Home / Fiqh dan Muamalah / Fatwa Ulama: Kapan Mulai waktu I’tikaf

Fatwa Ulama: Kapan Mulai waktu I’tikaf

Terdapat perbedaan pendapat ulama kapan mulai i’tikaf, apakah subuh pada hari ke-21 ataukah malam hari ke-21. Pendapat terkuat adalah i’tikaf dimulai dari malam hari ke-21.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin ditanya,

متى يبتدئ الاعتكاف ؟

“kapan dimulai i’tikaf?”

“جمهور أهل العلم على أن ابتداء الاعتكاف من ليلة إحدى وعشرين لا من فجر إحدى وعشرين ، وإن كان بعض العلماء ذهب إلى أن ابتداء الاعتكاف من فجر إحدى وعشرين مستدلاًّ بحديث عائشة رضي الله عنها عند البخاري : ( فلما صلى الصبح دخل معتكفه ) لكن أجاب الجمهور عن ذلك بأن الرسول عليه الصلاة والسلام انفرد من الصباح عن الناس ، وأما نية الاعتكاف فهي من أول الليل ، لأن العشر الأواخر تبتدىء من غروب الشمس يوم عشرين

“Mayoritas ahli ilmu menyatakan bahwa i’tikaf dimulai pada malam hari ke-21, bukan pada waktu subuh hari ke-21, meskipun sebagian ulama berpendapat bahwa memulai i’tikaf pada waktu subuh hari ke-21 berdalil dengan hadits ‘Aisyah: ‘shalat fajar kemudian memasuki tempat i’tikafnya’. Akan tetapi, jumhur ulama menjelaskan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyendiri pada waktu subuh dari manusia. Adapun niat i’tikaf dilakukan pada awal malam (ke-21), karena malam ke-21 dimulai dari tenggelamnya matahari (masuk waktu magrib setelah) hari ke-20.” [Fatawa As-Shiyam hal 501]

Hadits ‘Aisyah yang dimaksud sebagai berikut,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَعْتَكِفَ صَلَّى الْفَجْرَ ثُمَّ دَخَلَ مُعْتَكَفَهُ

“Dahulu Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam ketika ingin beri’tikaf, shalat fajar kemudian memasuki tempat i’tikafnya”(HR. Bukhari & Muslim).

An-Nawawi menjelaskan,

وأولوا الحديث على أنه دخل المعتكف ، وانقطع فيه ، وتخلى بنفسه بعد صلاته الصبح ، لا أن ذلك وقت ابتداء الاعتكاف ، بل كان من قبل المغرب معتكفا لابثا في جملة المسجد ، فلما صلى الصبح انفرد

“Para ulama memahami hadits ini bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki tempat i’tikaf (masjid), memisahkan diri dan menyendiri setelah shalat subuh. Bukan karena waktu itu waktu mulainya i’tikaf, akan tetapi waktunya adalah sebelum magrib beliau sudah i’tikaf dan mendiami masjid. Tatkala sudah selesai shalat subuh, beliau menyendiri.” (Syarh Shahih Muslim an-Nawawi, 8:69]

Hadits yang menunjukkan patokan waktu i’tikaf pada malam hari adalah hadits berikut:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَانَ اعْتَكَفَ مَعِى فَلْيَعْتَكِفِ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ

Barangsiapa yang ingin beri’tikaf bersamaku, maka hendaklah ia beri’tikaf pada 10 hari terakhir” (HR. Bukhari no. 2027)

Demikian semoga bermanfaat

@ Yogyakarta tercinta

Penyusun: Raehanul Bahraen

Artikel: www.muslim.or.id

Print Friendly, PDF & Email

Loading...

Check Also

Beberapa Kesalahan Seputar Thaharah (Bag. 2)

Baca pembahasan sebelumnya Beberapa Kesalahan Seputar Thaharah (Bag. 1) Beberapa kesalahan lainnya seputar thaharah yang …

%d bloggers like this: