php hit counter
Home / Fiqh dan Muamalah / Dzikir Pagi dan Sore Paling Tepat Waktu Membacanya Kapan, ya?

Dzikir Pagi dan Sore Paling Tepat Waktu Membacanya Kapan, ya?

Banyak sekali hadits shahih yang menunjukkan keutamaan dzikir. Selain dzikir setelah shalat, ada bacaan dzikir yang sangat perlu dibiasakan untuk dibaca oleh setiap muslim, yakni bacaan dzikir pagi dan sore. Di kalangan para santri, dzikir pagi dan sore sering disebut dengan istilah dzikir shobah dan masa’.

Berdasarkan petunjuk dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, masing-masing lafal atau teks dzikir pagi dan sore memiliki keutamaan yang bervariasi.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَأَنْ أَقْعُدَ مَعَ قَوْمٍ يَذْكُرُونَ اللَّهَ تَعَالَى مِنْ صَلَاةِ الْغَدَاةِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتِقَ أَرْبَعَةً مِنْ وَلَدِ إِسْمَعِيلَ وَلَأَنْ أَقْعُدَ مَعَ قَوْمٍ يَذْكُرُونَ اللَّهَ مِنْ صَلَاةِ الْعَصْرِ إِلَى أَنْ تَغْرُبَ الشَّمْسُ أَحَبُّ إِلَيَّ مَنْ أَنْ أَعْتِقَ أَرْبَعَةً

“Sungguh, aku duduk bersama kaum yang berdzikir kepada Allah Ta’ala dari shalat Subuh hingga terbit matahari lebih aku sukai daripada aku membebaskan empat anak Ismail. Dan sungguh aku duduk bersama suatu kaum yang berdzikir kepada Allah dari shalat Ashar hingga matahari tenggelam adalah lebih aku sukai daripada aku membebaskan empat orang budak.” (HR. Abu Daud No. 3182; dihasankan oleh al-Albani, Shahih Abu Daud, 2/698)

 

Contoh Lafal dan Keutamaan Dzikir Pagi dan Sore

Di antara macam-macam dzikir pagi dan sore yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya antara lain,

مَنْ قَالَ حِينَ يُصْبِحُ وَحِينَ يُمْسِي سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ مِائَةَ مَرَّةٍ لَمْ يَأْتِ أَحَدٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ إِلَّا أَحَدٌ قَالَ مِثْلَ مَا قَالَ أَوْ زَادَ عَلَيْهِ

Barang siapa ketika pagi dan sore, membaca doa ‘Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya’ sebanyak seratus kali, maka pada hari kiamat tidak ada orang lain yang melebihi pahalanya kecuali orang yang juga pernah mengucapkan bacaan seperti itu atau lebih dan itu.” (HR. Muslim No. 4858)

Dari Abdurrahman bin Yazid, dari Abdullah, ia berkata,

كَانَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَمْسَى قَالَ أَمْسَيْنَا وَأَمْسَى الْمُلْكُ لِلَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ

“Apabila sore hari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengucapkan dzikir yang berbunyi: (amsainaa wa amsal mulku lillaah, walhamdulillaah, laa-ilaaha illallah, wahdahuu laa syariika lahu) Kami memasuki sore hari dan pada sore ini jagat raya tetap milik Allah. Segala puji bagi Allah tiada Rabb selain Allah, Dialah yang Esa, tiada sekutu bagi-Nya.” (HR. Muslim No. 4901)

Dari Syadad bin Aus, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

سَيِّدُ الِاسْتِغْفَارِ أَنْ يَقُولَ الْعَبْدُ اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِالنِّعْمَةِ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي إِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ

قَالَ إِنْ قَالَهَا بَعْدَمَا يُصْبِحُ مُوقِنًا بِهَا ثُمَّ مَاتَ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَإِنْ قَالَهَا بَعْدَمَا يُمْسِي مُوقِنًا بِهَا ثُمَّ مَاتَ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ

Sayidul istighfar adalah seorang hamba berkata ‘Ya Allah engkau adalah Rabbku, tidak ada Ilah kecuali Engkau. Engkau telah menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku berada pada perjanjian-Mu dan ancaman-Mu semampuku. Aku menetapi kepada-Mu dengan nikmat yang ada dan aku mengadu kepada-Mu dengan dosaku. Ampunilah aku, sesungguhnya tidak ada yang mengampuni dosa kecuali Engkau.”

Baca Juga: Shalat Fardhu dan Shalat Nafilah, Apa Bedanya?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika dia mengatakannya pada waktu pagi hari dalam keadaan yakin dengan-Nya, lalu dia mati maka dia termasuk dari penduduk surga. Jika dia membacanya pada waktu sore dalam keadaan yakin, lalu dia mati maka dia termasuk dari penduduk surga.” (HR. Ahmad No. 16488)

Masih ada banyak lagi variasi bacaan dzikir padi dan sore. Untuk selengkapnya, Anda bisa merujuk pada kitab Hishnul Muslim min Adzkar al-Kitab wa as-Sunnah karya Syaikh Said bin Ali al-Qahthani. Buku kecil kumpulan dzikir dan doa ini sudah banyak diterjemah ke bahasa Indonesia oleh banyak penerbit.

 

Kapan Waktu untuk Membaca Dzikir Pagi dan Sore?

Seluruh bacaan Dzikir pagi dan sore dibaca pada waktu-waktu yang ketentuannya diketahui melalui hadits-hadits Nabi. Namun para ulama saling beda pendapat soal batasan-batasan awal dan akhir waktu pagi dan waktu sore.

Sebagian ulama fikih berpendapat bahwa waktu pagi itu dimulai setelah terbit fajar dan berakhir bersamaan dengan terbitnya matahari. Pendapat lain menyatakan bahwa waktu pagi itu berakhir seiring dengan berakhirnya waktu Dhuha.

Pendapat yang terkuat menyatakan bahwa waktu dzikir pagi bisa dimulai sejak terbit fajar dan berakhir ketika matahari sudah mulai meninggi.

Baca Juga: Tidak Fafal Al-Fatihah, Ketika Shalat Baca Apa?

Adapun tentang waktu sore (Al-Masa’u), sebagian ulama berpendapat bahwa waktu tersebut dimulai sejak waktu Ashar dan berakhir bersamaan dengan tenggelamnya matahari.

Sebagian ulama lain berpendapat bahwa waktu sore/petang berakhir pada sepertiga malam. Ada pula ulama yang berpendapat waktu permulaan untuk dzikir sore/petang adalah setelah matahari tenggelam (ba’da Maghrib).

Syaikh Muhammad Shalih al-Munajji menyatakan, barangkali pendapat yang paling mendekati kebenaran adalah hendaknya seorang muslim membaca dzikir pagi dimulai sejak terbit fajar hingga terbit matahari.

Jika seandainya kehilangan waktu tersebut, tak mengapa bila ia baca dzikir pagi hingga tiba akhir waktu Dhuha; beberapa menit sebelum masuk waktu Zhuhur.

Sementara untuk dzikir petang/sore bisa dibaca mulai waktu Ashar dan berakhir saat Maghrib tiba. Jika seandainya kehilangan waktu tersebut, tak masalah jika dibaca hingga sebelum tiba sepertiga malam.

Dalilnya adalah firman Allah ‘azza wajalla,

فَاصْبِرْ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ بِالْعَشِيِّ وَالْإِبْكَارِ

“Maka bersabarlah kamu, karena sesungguhnya janji Allah itu benar, dan mohonlah ampunan untuk dosamu dan bertasbihlah seraya memuji Rabbmu pada waktu petang dan pagi.” (QS. Al-Mukmin: 55)

Maksud dari waktu Al-‘Asyiyyi adalah waktu Ashar hingga Maghrib.

Allah ‘azza wajalla berfirman,

فَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ الْغُرُوبِ

Maka bersabarlah kamu terhadap apa yang mereka katakan dan bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam(nya).” (QS. Qaf: 39)

Baca Juga: Jenazah Korban Bunuh Diri Dishalati Atau Enggak? Bagaimana Pendapat Ulama?

Ibnu Qayyim rahimahullah menjelaskan maksud ayat di atas, bahwa makna dari kalimat dalam hadits-hadits Nabi, “Barang siapa yang membaca begini dan begini ketika datang pagi hari atau sore hari…” maksudnya adalah membacanya di waktu sebelum matahari terbit (setelah Subuh), dan sebelum matahari tenggelam (setelah Ashar). Tepatnya antara Subuh dan terbit matahari, dan antara Ashar dan Maghrib.

Kemudian makna dari firman Allah ‘azza wajalla dalam surat Al-Mukmin ayat 55 (وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ بِالْعَشِيِّ وَالأِبْكَارِ), Al-Ibkar adalah waktu awal siang, sedangkan al-‘Asyiyyu adalah waktu akhir siang. Waktu untuk membaca dzikir ini adalah setelah Subuh dan setelah Ashar. (Al-Wabil ash-Shayyib, 200)

 

Selain Dzikir Pagi dan Sore, Ada Pula Dzikir Malam

Selain dzikir pagi dan sore, ada pula dzikir yang disunahkan untuk dibaca ketika malam hari sebagaimana disebutkan dalam hadits,

الْآيَتَانِ مِنْ آخِرِ سُورَةِ الْبَقَرَةِ مَنْ قَرَأَ بِهِمَا فِي لَيْلَةٍ كَفَتَاهُ

Dua ayat terakhir dari surat Al Baqarah, siapa yang membacanya pada suatu malam, niscaya kedua ayat itu akan mencukupinya.” (HR. Al-Bukhari No. 4652)

Telah menjadi pemahaman bersama bahwa waktu malam itu dimulai sejak Maghrib dan berakhir dengan terbitnya fajar.

Maka hendaknya setiap muslim senantiasa bersemangat dalam melazimi setiap dzikir sesuai dengan waktu disunahkan untuk membacanya dalam rangka meraih keutamaan dzikir-dzikir tersebut semaksimal mungkin. Inilah salah satu bentuk ketaatan seorang hamba kepada Allah dan rasul-Nya. Wallahu a’lam [Shodiq/dakwah.id]

 

Loading...

Check Also

Status Daging Sembelihan di Negeri Non-muslim (Bag. 1)

Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala Pertanyaan: Tidak samar lagi bagi syaikh bahwa …

%d bloggers like this: