php hit counter
Home / Fiqh dan Muamalah / Bagaimana Memulai dan Mengakhiri Bulan Ramadhan ketika di Perjalanan

Bagaimana Memulai dan Mengakhiri Bulan Ramadhan ketika di Perjalanan

Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala

Pertanyaan :

Ketika di perjalanan (safar), sebagian negara mengumumkan masuknya bulan Ramadhan atau bulan Syawwal sebelum atau sesudah negeri kita (yaitu Saudi Arabia, pen.). Sebagian negeri tersebut tidak menggunakan ru’yatul hilal (melihat hilal). Apakah kami tetap mengikuti mereka? Lalu, bagaimana sikap kita ketika kita sedang safar di negeri non-muslim (kafir)?

Jawaban:

Orang-orang yang tidak berpuasa ketika terlihat hilal atau tidak berhari raya ketika terlihat hilal (tidak menggunakan metode ru’yatul hilal, pen.), mereka telah menyelisihi ketentuan syariat. Tidak boleh bagi kita untuk mengikuti mereka. Adapun jika Engkau berada di suatu negeri, dan Engkau tidak mengetahui apakah hilal sudah terlihat ataukah belum, maka Engkau berpatokan pada hukum asal. Jika Engkau ragu, apakah hilal sudah terlihat ataukah belum, dan ketika itu Engkau masih berada di bulan Sya’ban, maka puasa itu belum wajib bagimu (dinilai belum masuk bulan Ramadhan, pen.). (Sama halnya) jika Engkau masih berada di bulan Ramadhan, maka tidak boleh berhari raya (dinilai bulan Ramadhan belum habis, pen.).

Berdasarkan pertanyaan yang disampaikan, jika dibuat permisalan, bahwa seseorang melakukan safar dari Saudi Arabia ke Pakistan, dan sudah tiba di Pakistan. Di Pakistan, belum terlihat hilal bulan Syawwal. Adapun di Saudi Arabia, ketika itu sudah terlihat hilal bulan Syawwal. Dalam kondisi ini, kami katakan untuk tetap berpuasa. Karena ketika itu, Engkau berada di suatu tempat (negeri) yang belum terlihat hilal (bulan Syawwal). Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ

“Berpuasalah ketika melihatnya (hilal bulan Ramadhan) dan berhari rayalah karena melihatnya (hilal bulan Syawwal).” (HR. Bukhari no. 1909)

Seandainya Engkau kembali (ke Saudi Arabia) di hari yang sama, maka Engaku bisa berhari raya (di hari itu). Dan sebaliknya, jika Engkau melakukan perjalanan ke arah barat, dan Engkau tiba di suatu negeri yang telah terlihat hilal, padahal hilal belum terlihat di Saudi Arabia, maka Engkau pun ikut berhari raya. Karena Engkau berada di negeri yang sudah terlihat hilal.

Allah Ta’ala berfirman,

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

“Dan barangsiapa yang hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah berpuasa di bulan itu.” (QS. Al-Baqarah [2]: 185)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَصُومُوا، وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا

“Jika Engkau telah melihatnya (hilal bulan Ramadhan), maka berpuasalah. Jika Engkau telah melihatnya (hilal bulan Syawwal), maka berbukalah (berhari rayalah).” (HR. Bukhari no. 1909)

Sehingga yang menjadi patokan adalah negeri yang Engkau berada di sana (bukan negeri asal kita, pen.). Selama negeri tersebut telah terlihat hilal, maka Engkau ikut mulai berpuasa atau berhari raya.

Adapun jika Engkau berada di negeri kafir, jika Engkau telah melihat hilal (bulan Ramadhan), maka mulailah berpuasa. Jika Engkau belum melihatnya, maka kembalikan ke hukum asal. Jika Engkau berada di bulan Sya’ban, maka hukum asalnya adalah masih di bulan Sya’ban. Jika Engkau berada di bulan Ramadhan, maka hukum asalnya adalah Engkau masih di bulan Ramadhan. Jika Engkau ragu-ragu, maka kembalikanlah kepada yang yakin.

Akan tetapi pada hakikatnya, Engkau adalah musafir, Engkau boleh untuk tidak berpuasa. Dan perlu diketahui, jika hilal sudah terlihat di Saudi Arabia, maka hilal tersebut pasti sudah terlihat di Amerika [1]. Karena negeri-negeri di (posisi) sebelah timur itu akan melihat hilal sebelum negeri-negeri di (posisi) sebelah barat. Dan sebaliknya jika Engaku berada di Pakistan, Jepang, dan semacamnya. [2, 3]

[Selesai]

***

Diselesaikan di sore hari, Rotterdam NL, 26 Sya’ban 1439/ 13 Mei 2018

Penerjemah: M. Saifudin Hakim

 

Catatan kaki:

[1]     Posisi Amerika adalah di sebelah barat Saudi Arabia.

[2]     Kaidah dalam masalah munculnya hilal adalah hilal itu terbit (muncul) dari sebelah barat. Jika di suatu negeri di sebelah timur sudah terlihat hilal, maka negeri-negeri di sebelah barat seharusnya juga sudah terlihat hilal. Namun jika negeri di sebelah barat sudah melihat hilal, maka belum tentu negeri di sebelah timur sudah melihat hilal. Contoh yang disampaikan Syaikh Al-‘Utsaimin, jika Saudi Arabia sudah melihat hilal, maka Jepang dan Paksitan (sebelah timur Saudi Arabia), belum tentu sudah melihat hilal.

[3]     Diterjemahkan dari: I’laamul Musaafiriin, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala, hal. 74-75 (pertanyaan nomor 99).

Print Friendly, PDF & Email

Loading...

Check Also

Ternyata Ini Tanda Diterimanya Amal

Bismillah… Belum lama kita bergelut melakukan rukun Islam ke 4 yaitu puasa di bulan suci …

%d bloggers like this: