php hit counter
Home / Penyejuk Hati / Akhlaq dan Nasehat / Apakah Engkau Ingin Menjadi Pembuka Pintu-Pintu Kebaikan? (Bag. 10)

Apakah Engkau Ingin Menjadi Pembuka Pintu-Pintu Kebaikan? (Bag. 10)

Baca pembahasan sebelumnya Apakah Engkau Ingin Menjadi Pembuka Pintu-Pintu Kebaikan? (Bag. 9)

Ke dua belas: Bersemangat untuk menebarkan kebaikan

Yaitu dengan senantiasa memberikan nasihat kepada orang lain ketika berkumpul dengan mereka, agar mereka menyibukkan dirinya dengan kebaikan dan menjauhi segala bentuk keburukan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الدِّينُ النَّصِيحَةُ

“Agama ini hanyalah nasihat.” (HR. Muslim no. 55)

Seorang hamba tidak akan mampu menjadi kunci kebaikan, kecuali dalam setiap tempat dia berusaha untuk menyebarkan kebaikan.

Oleh karena itu, ketika menjelaskan makna firman Allah Ta’ala,

وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنْتُ

“Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada.” (QS. Maryam [19]: 31)

Ibnul Qayyim rahimahullahu Ta’ala berkata, “Yaitu mengajarkan kebaikan, berdakwah kepada Allah Ta’ala, mengingatkan manusia, dan memotivasi untuk taat kepada-Nya. Barangsiapa yang tidak memiliki hal-hal tersebut, maka dia tidak mendapatkan keberkahan. Dicabutlah keberkahan ketika bertemu dan berkumpul dengannya.” (Risalah Ibnul Qayyim li Ahadi Ikhwanihi, hal. 5)

Baca juga: Lebih Baik Tidak Minta Didoakan ketika Memberi Sedekah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bersabda,

خَيْرُكُمْ مَنْ يُرْجَى خَيْرُهُ وَيُؤْمَنُ شَرُّهُ، وَشَرُّكُمْ مَنْ لَا يُرْجَى خَيْرُهُ وَلَا يُؤْمَنُ شَرُّهُ

“Manusia terbaik di antara kalian adalah yang diharapkan kebaikannya dan orang lain merasa aman dari gangguannya. Manusia terburuk di antara kalian adalah yang tidak diharapkan kebaikannya dan orang lain juga tidak merasa aman dari gangguannya.” (HR. Tirmidzi no. 2263, Ahmad no. 8812, dan Ibnu Hibban no. 528. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 2603).

 

Ke tiga belas: Pintu kebaikan itu saling menyambung

Yang hendaknya selalu kita ingat adalah bahwa pintu kebaikan itu saling menyambung. Maksudnya, ketika satu pintu kebaikan terbuka, maka akan dibukakan untuknya pintu-pintu kebaikan yang lainnya. Dan ini termasuk di antara nikmat Allah Ta’ala kepada kita.

Ketika hati kita dilapangkan untuk membuka pintu kebaikan, bersemangat untuk mengerjakannya, maka kebaikan tersebut akan memanggil kebaikan yang lainnya. Allah Ta’ala berfirman,

هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ

“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).” (QS. Ar-Rahman [55]: 60)

Meskipun kebaikan itu tampak kecil dan remeh, bersegeralah membukanya dengan penuh semangat dan antusias, sebelum pintu kebaikan tersebut ditutup. Karena jika kita telah membuka pintu kebaikan dan memasukinya, meskipun perkara yang kecil, maka akan kita dapati bahwa kebaikan yang kecil tersebut akan memanggil kebaikan yang lainnya dan akan membuka pintu-pintu kebaikan yang lainnya.

Hal ini juga sebagaimana kejelekan yang akan memanggil kejelakan yang lainnya. Allah Ta’ala berfirman,

ثُمَّ كَانَ عَاقِبَةَ الَّذِينَ أَسَاءُوا السُّوأَى

“Kemudian, akibat orang-orang yang mengerjakan kejahatan adalah (azab) yang lebih buruk.” (QS. Ar-Ruum [30]: 10)

Juga terdapat hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang semakna dengan hal ini. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا فَتَحَ رَجُلٌ بَابَ عَطِيَّةٍ، يُرِيدُ بِهَا صِلَةً، إِلَّا زَادَهُ اللهُ بِهَا كَثْرَةً

“Tidaklah seseorang membuka pintu pemberian (sedekah), dengan maksud untuk menyambung (hubungan kekerabatan), kecuali Allah Ta’ala tambahkan untuknya (kebaikan) yang banyak.” (HR. Ahmad no. 9624 dan Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman no. 3140. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 2231)

Oleh karena itu, jangan sekali-kali meremehkan kebaikan, meskipun tampak kecil, remeh dan sedikit. Karena kebaikan yang kecil-kecil itu sesungguhnya adalah pintu awal kebaikan yang sangat banyak.

[Bersambung]

Baca juga:

***

@Sint-Jobskade 718 NL, 16 Syawwal 1439/ 30 Juni 2018

Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,

Penulis: M. Saifudin Hakim

Artikel: Muslim.Or.Id

 

Referensi:

Disarikan dari kitab Kaifa takuunu miftaahan lil khair karya Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr, hal. 51-54.

Sahabat muslim, yuk berdakwah bersama kami. Untuk informasi lebih lanjut silakan klik disini. Jazakallahu khaira

Print Friendly, PDF & Email

Loading...

Check Also

Kenapa Seseorang Lari dari Anak, Istri, dan Orang Tuanya di Hari Kiamat?

Kejadian hari kiamat sangat dahsyat dan sangat sulit dibayangkan oleh akal manusia. Misalnya Allah jadikan …

%d bloggers like this: